SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/03/03

IAP 1: Imam Al-Ghazali

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ


Seorang alim pengikut Ahlussunnah wal-jamaah yang sangat masyhur ini namanya makin harum, sampai-sampai penyarah Hadits Nasa’i bernama Imam Suyuthi menukil fatwanya: [1] [2]
خُسُوْفُ الْقَمَرِ عِباَرَةٌ عَنِ انْمِحاَءِ ضَوْئِهِ بِتَوَسُّطِ اْلأَرْضِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّمْسِ مِنْ حَيْثُ أَنَّهُ يَقْتَبِسُ نُوْرُهُ مِنَ الشَّمْسِ وَاْلأَرْضِ كَرَّةً وَالسَّماَءُ مُحِيْطَةٌ بِهاَ مِنَ الْجَواَنِبِ فَإِذاَ وَقَعَ الْقَمَرُ فِي ظِلِّ اْلأَرْضِ انْقَطَعَ عَنْهُ نُوْرُ الشَّمْسِ.” 
Artinya:
Gerhana bulan adalah gejala hilangnya sinar-pantulan-bulan karena bumi bergerak ke garis lurus antara bulan dan matahari. Karena sinar bulan adalah pantulan dari sinar matahari. Terkadang juga pantulan sinar matahari ke bumi lalu ke bulan. Sementara langit meliputi (matahari bumi dan bulan) dari berbagai arah. Ketika bulan bergeser ketempat naungan bumi maka cahaya matahari yang dari bulan terputus.” 
Bahkan penyarah Hadits Bukhari yang sangat masyhur bernama Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menukil ucapannya:
حَرَكَة اللِّسَان بِالذِّكْرِ مَعَ الْغَفْلَة عَنْهُ تُحَصِّل الثَّوَاب ؛ لِأَنَّهُ خَيْر مِنْ حَرَكَة اللِّسَان بِالْغِيبَةِ ، بَلْ هُوَ خَيْر مِنْ السُّكُوت مُطْلَقًا ، أَيْ الْمُجَرَّد عَنْ التَّفَكُّر .
Artinya:
Menggerakkan lisan untuk berdzikir namun lupa Allah akan mendapat pahala karena nilainya lebih baik dari pada menggerakkan lisan untuk menggunjing, bahkan lebih baik dari pada diam sama sekali, tidak melakukan tafakkur.” [3]


Kalau dilihat dari zaman dan tulisannya, sepertinya Imam Al-Ghazali pengagum Bukhari, adalah pengikut Ahus-Sunnah wal-Jama’ah. Hanya saja saat itu kefahaman Muslimiin mengenai Ahus-Sunnah wal-Jama’ah telah meluntur. Dia menulis di dalam Ihya’:
فِي تُرْجُمَةِ عَقِيْدَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي كَلِمَتَيْ الشَّهاَدَةِ الَّتِيْ هِيَ أَحَدُ مَباَنِي اْلإِسْلاَمِ فَنَقُوْلُ وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ: الْحَمْدُ للهِ الْمُبْدِىءِ الْمُعِيْدِ الْفَعاَّلِ لِماَ يُرِيْدُ ذِي الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ وَالْبَطْشِ الشَّدِيْدِ الْهاَدِيْ صَفْوَةِ الْعَبِيْدِ إِلَى الْمَنْهَجِ الرَّشِيْدِ وَالْمَسْلَكِ السَّدِيْدِ الْمُنْعِمِ عَلَيْهِمْ بَعْدَ شَهاَدَةِ التَّوْحِيْدِ بِحِراَسَةِ عَقاَئِدهمْ عَنْ ظُلُماَتِ التَّشْكِيْكِ وَالتَّرْدِيْدِ السَّالِكِ بِهِمْ إِلَى إِتْبَاعِ رَسُوْلِهِ الْمُصْطَفَى وَاِقْتِفاَءِ آثاَرِ صَحْبِهِ اْلأَكْرَمِيْنَ الْمُكْرَمِيْنَ بِالتَّأْيِيْدِ وَالتَّسْدِيْدِ الْمُتَجَلِّيْ لَهُمْ فِي ذاَتِهِ وَأَفْعاَلِهِ بِمَحَاسِنِ أَوْصاَفِهِ الَّتِيْ لاَ يُدْرِكُهاَ إِلاَّ مَنْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ الْمُعَرَّفُ إِياَّهُمْ أَنَّهُ فِي ذاَتِهِ واَحِدٌ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فَرْدٌ لاَ مَثِيْلَ لَهُ صَمَدٌ لاَ ضِدَّ لَهُ مُنْفَرِدٌ لاَ نِدَّ لَهُ وَأَنَّهُ وَاحِدٌ قَدِيْمٌ لاَ أَوَّلَ لَهُ أَزَلِيٌّ لاَ بِداَيَةَ لَهُ مُسْتَمِرُّ الْوُجُوْدِ لاَ آخِرَ لَهُ أَبَدِي لاَ نِهاَيَةَ لَهُ قَيُّوْمٌ لاَ انْقِطاَعَ لَهُ لَمْ يَزَلْ وَلاَ يَزاَلُ مَوْصُوْفاً بِنُعُوْتِ الْجَلاَلِ لاَ يُقْضَى عَلَيْهِ بِاْلاِنْقِضاَءِ وَاْلاِنْفِصاَلِ بِتَصَرُّمِ اْلآباَدِ وَانْقِراَضِ اْلآجاَلِ بَلْ "هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ". 
Artinya:
(Tulisan ini membahas) mengenai Keterangan Aqidah Ahlus-Sunnah, khususnya mengenai dua kalimat syahadat, yang merupakan rukun Islam. Kami yang berkata; semoga Allah memberi Taufiq'Segala Puji bagi Allah yang memulai dan yang mengulang, yang selalu melakukan yang Dia kehendaki, Pemilk Arasy Sangat Agung dan Pukulan Sangat Dahsyat, Pembimbing hamba-hamba pilihan, ke arah yang tepat dan jalan yang benar. Yang memberi nikmat mereka setelah mereka bersyahadat tauhid dengan menjaga kaidah-kaidah dari kegelapan-kegelapan yang meragukan dan membuat murtad. Yang menggerakkan mereka agar mengikuti Rasul Al-Mushthafa (Pilihan SAW) dan agar mengikuti langkah-langkah para sahabatnya yang lebih mulia yang dimuliakan, dengan bukti mereka diperkuat dan diarahkan (oleh Allah) pada yang benar. Yang berusaha menampakkan diri pada mereka melalui Dzat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya dengan cara memperindah sifat-sifat-Nya yang tak mungikin bisa ditangkap kecuali oleh orang yang أَلْقَى السَّمْعَ alqas-sam’a (istilah dalam Al-Qur’an surat Qaf 37 yang arti lughat-nya meletakkan pendengaran, namun maksud-nya mempergunakan pendengarannya). Namun ia bersaksi (bahwa Allah Esa). Yang mengenalkan pada mereka bahwa Dia Esa di dalam Dzat-Nya, tak memiliki sekutu. Tunggal, mutlak tak ada yang membandingi. Maha segala-galanya, tak ada yang menyamai-Nya. Sendirian, tak ada yang membandingi-Nya. Yang Esa lagi terdahulu, tidak ada yang mengawali-Nya. Yang Azali: telah dan akan selalu ada, selalu wujud takkan pernah berakhir, abadi yang tiada batas. Yang قَيُّوْمٌ  Maha merumat yang tak putus. Belum dan takkan berhenti dijelas-jelaskan bahwa sifat Dia Maha Agung. Dia takkan dihukumi atau dituntut oleh siapapun, karena Dialah yang bisa memotong keabadian dan yang menghabisi ajal. Bahkan Dialah yang dalam Al-Qur’an ditulis “هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.” 
Yang artinya “Dialah yang Awal dan Akhir, dan Lahir, dan Bathin. Dan Dia Maha Tahu pada segala sesuatu’.”

Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah Islam yang diamalkan oleh Rasulillah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  dan para sahabat dan umat Islam setelah mereka.
·         Ahlus-Sunnah artinya ahli menetapi sunnah Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan sunnah para Khalifahnya yang rasyidiin. Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  bersabda “أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .
Artinya: Aku wasiat pada kalian agar bertaqwa pada Allah! Mendengar dan taat! Meskipun hanya hamba-sahaya dari Habasyi (yang menjadi pimpinan). Sungguh barang siapa dari kalian hidup setelahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka amalkanlah sunnahku dan sunnah para Khalifah Al-Mahdiyyiin (yang mendapat petunjuk dari Allah) Ar-Rasyidiin (yang benar). Pegang-teguh dan gigitlah dia dengan gigi geraham! Dan jauhilah barunya perkara (tentang agama)! Sebab semua yang diperbaharui adalah bid’ah, dan semua bid’ah sesat.”
  • Wal-Jama’ah artinya dan juga ahli menetapi jamaah, sebagai mengamalkan perintah Allah “وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا .
Artinya:
Dan berpegang teguhlah pada tali Allah dengan berjamaah! Jangan berpecah belah!.”


[1] Dia memiliki beberapa gelar:
  • Syaikh.
  • Imam.
  • Alim.
  • Allamah.
  • Chujjatul-Islam. Yaitu orang yang menguasai kebanyakan sunnah atau Hadits, hanya sedikit yang tidak diketahui. Chafidl ialah orang yang menguasai 100. 000 Hadits. Sedangkan Chakim ialah orang yang menguasai 3.000 Hadits. Ada yang menjelaskan Chakim ialah orang yang menguasai sunnah. Nama panjang dia Zainuddin Abu Chamid Muhammad bin Muhammad. Beliau dilahirkan di daerah Thusi pada tahun 450 Hijriyyah, dan diwafatkan di sana pada hari Senin pagi tanggal 14 Jumadayil-Akhir tahun 505 Hijriyyah dalam umur 55 tahun. Pendahulu dia, guru Imam Bukhari, Imam Nasa’i dan Imam Abu Dawud, yang berasal dari kota tersebut, مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ الطُّوسِىُّ  (Muhammad bin Manshur At-Thusi). Ada lagi guru besar pendahulu beliau yang bernama عَلِىُّ بْنُ مُسْلِمٍ الطُّوسِىُّ (Ali bin Muslim At-Thusi) yang dilahirkan pada tahun 160 Hijriyyah di kota yang sama, yang juga guru Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’i.
  • Barakatul-Anam.
[Al-Bidayatul Hidayah juz 1 halaman 1].

[2] Berasal dari kata syarah yang artinya lebar atau lapang, namun maksudnya pembahas atau pengulas.
[3] Walau begitu Ibnu Hajar dan ulama besar lainnya menganggap Kitab paling shahih setelah Al-Qur’an adalah Bukhari dan Muslim. Dia menulis:
أَوَّلُ مَنْ صَنَفَ فِي الصَّحِيْحِ الْبُخاَرِيُّ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْماَعِيْلَ وَتَلاَهُ أَبُوْ الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجاَّجِ الْقُشَيْرِيُّ وَمُسْلِمٌ مَعَ أَنَّهُ أَخَذَ عَنِ الْبُخاَرِيِّ وَاسْتَفاَدَ مِنْهُ فَإِنَّهُ يُشاَرِكُ الْبُخاَرِيَّ فِيْ كَثِيْرٍ مِنْ شُيُوْخِهِ وَكِتاَباَهُماَ أَصَحُّ الْكُتُبِ بَعْدَ كِتاَبِ اللهِ الْعَزِيْزِ وَأَماَّ ماَ رَوَيْناَهُ عَنِ الشاَّفِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قاَلَ مَا أَعْلَمُ فِي اْلأَرْضِ كِتاَباً فِي الْعِلْمِ أَكْثَرَ صَوَابًا مِنْ كِتَابِ ماَلِكٍ قاَلَ وَمِنْهُمْ مَنْ رَواَهُ بِغَيْرِ هَذاَ اللَّفْظِ يَعْنِيْ بِلَفْظِ أَصَحَّ مِنَ الْمُوَطَّأِ فَإِنَّماَ قاَلَ ذَلِكَ قَبْلَ وُجُوْدِ كِتاَبَيْ الْبُخاَرِيِّ وَمُسْلِمٍ ثُمَّ اِنَّ كِتاَبَ الْبُخاَرِيِّ أَصَحُّ الْكِتاَبَيْنِ صَحِيْحاً وَاَكْثَرُهُماَ فَواَئِدَ وَأَماَّ ماَ رَوَيْناَهُ عَنْ أَبِيْ عَلِى الْحاَفِظِ النَّيْساَبُوْرِيِّ أُسْتاَذِ اْلحَاكِمٍ أَبِي عَبْدِ اللهِ الْحاَفِظِ مِنْ أَنَّهُ قاَلَ ماَ تَحْتَ أَدِيْمِ الَّسمَاءِ كِتاَبٌ أَصَحُّ مِنْ كِتاَبِ مُسْلِمِ بْنِ الْحَجاَّجِ فَهَذاَ وَقَوْلُ مَنْ فَضَّلَ مِنْ شُيُوْخِ الْمَغْرِبِ كِتاَبَ مُسْلِمٍ عَلَى كِتاَبِ الْبُخاَرِيِّ إِنْ كَانَ اْلمُراَدُ بِهِ أَنَّ كِتاَبَ مُسْلِمٍ يَتَرَجَّحُ بِأَنَّهُ لَمْ يُماَزِجُهُ غَيْرُ الصَّحِيْحِ فَإِنَّهُ لَيْسَ فِيْهِ بَعْدَ خُطْبَتِهِ اِلاَّ اْلحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ مَسْرُوْداً غَيْرَ مَمْزُوْجٍ بِمِثْلِ ماَ فِي كِتاَبِ الْبُخاَرِيِّ فِي تَرَاجِمِ أَبْواَبِهِ مِنَ اْلأَشْياَءِ الَّتِيْ لَمْ يُسْنِدْهاَ عَلَى الْوَصْفِ اْلمَشْرُوْطِ فِي الصَّحِيْحِ فَهَذاَ لاَ بَأْسَ بِهِ وَلَيْسَ يَلْزَمُ مِنْهُ أَنَّ كِتاَبَ مُسْلِمٍ أَرْجَحُ فِيْماَ يَرْجِعُ إِلَى نَفْسِ الصَّحِيْحِ عَلَى كِتاَبِ الْبُخاَرِيِّ وَإِنْ كاَنَ الْمُراَدُ بِهِ أَنَّ كِتاَبَ مُسْلِمٍ أَصَحُّ صَحِيْحاً فَهَذَا مَرْدُوْدٌ عَلَى مَنْ يَقُوْلُهُ وَاللهُ أَعْلَمُ .
Artinya:
Awalnya orang yang menyusun Hadits shahih adalah Al-Bukhari yang nama panjangnya Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il. Abul-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi telah membaca kitab tersebut. Di samping Muslim telah berguru dan menerima faidah dari Bukhari, dia juga menyamai Bukhari di dalam memilih Syaikh-Syaiknya. Kitab mereka berdua adalah lebih shahihnya kitab setelah Kitab Allah yang mulia. Adapun yang kami riwayatkan dari Syafi’i رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ, “Saya tidak mengetahui kitab di dalam bumi yang lebih banyak benarnya dari pada kitab Imam Maliki.” 
Sebagian ulama meriwayatkan dengan selain ini lafadl, yakni dengan lafadl, “Saya  (Syafi’i) tidak mengetahui kitab di dalam bumi yang lebih banyak benarnya dari pada kitab Al-Muwattha’.” 
Sungguh Imam Syafi’i mengatakan demikian itu karena belum munculnya dua kitab Bukhari dan Muslim. Setelah itu kitab Bukhari-lah lebih shahih dan lebih banyak faidahnya dua kitab tersebut. Adapun yang kami riwayatkan dari Abi Ya’la Al-Hafidl An-Naisaburi, Ustadznya Al-Hakim yang panggilannya Abi Abdillah Al-Hafidl: “Di bawah langit tidak ada kitab yang lebih shahih dari pada kitabnya Muslim bin Hajjaj (Hadits Muslim).” 
Perkataan ini dan perkataan para Syaikh dari Al-Maghribi yang menilai kitab Muslim lebih utama mengungguli kitab Bukhari. Jika yang dimaksud:
“Kitab Muslim lebih berbobot karena tidak tercampur Hadits yang tidak shahih, yakni setelah khuthbah muqaddimah Muslim, tidak ada lagi Hadits kecuali shahih yang terus-menerus yang tidak keruh semisal yang di dalam Bukhari: di dalam menjelaskan bab-bab Bukhari terdapat riwayat-riwayat yang tidak di-isnad-kan dengan persyaratan shahih,” maka penilaian demikian boleh-boleh saja. Namun dalam hal ini seharusnya dia tidak melazimkan bahwa kitab Muslim lebih berbobot mengungguli kitab Bukhari sepenuhnya.
Kalau yang dimaksud, “Kitab Muslim lebih shahih secara nyata,” jelas  (kebenaran ucapan tersebut) ditolak; sementara Allah lebih tahu.

In syaa Allah bersambung.

0 komentar:

Posting Komentar