SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/03/03

Sakti Mandraguna

















Betulkah Nabi SAW, Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali RA, adalah sakti? Kenapa setiap orang cenderung ingin sakti mandraguna?.
Saya yakin sepenuhnya jika ‘dua bahasan ini’ didengar oleh ‘A’isyah RA, bulu kuduk dia akan berdiri, karena dia berkeyakinan yang sakti hanya Allah. Bahkan mungkin dia akan mengulangi makalahnya:

مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا – صلى الله عليه وسلم – رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ وَهْوَ يَقُولُ ( لاَ تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ ) وَمَنْ حَدَّثَكَ أَنَّهُ يَعْلَمُ الْغَيْبَ فَقَدْ كَذَبَ ، وَهْوَ يَقُولُ لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ.”

Artinya:
Barang siapa bercerita padamu bahwa:
1.     Muhammad benar-benar telah melihat Tuhan-nya berarti telah bohong. Allah sendiri berfirman ‘pandangan-pandangan takkan menangkap Dia’.
2.     Barang-siapa bercerita padamu bahwa Nabi SAW benar-benar tahu barang-barang-ghaib berarti telah bohong. Allah sendiri berfirman ‘tidak tahu barang-ghaib kecuali Allah’.”

Karena sakti yang sesungguhnya, jika dia telah memiliki ‘Lima Kunci’ barang ghaib. Kecuali sakti-saktian yakni karena sihir, mejik atau tenaga dalam. Yang itu memang bisa dipelajari.
Mengenai 'Lima Kunci' tersebut, dijelaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.
Artinya:
Sungguh Allah yang menyanding:
1.     Ilmu kiamat (shughro dan kubro).
2.     Menurunkan hujan.
3.     Tahu yang di dalam rahim-rahim.
4.     Jiwa takkan tahu, apa yang akan dia kerjakan besok pagi.
5.     Jiwa takkan tahu di tanah mana dia akan mati. Sungguh Allah Maha Alim Maha Meliput.

1.     Yang dimaksud kiamat adalah yang sughra (kecil) maupun kubra (besar). Kiamat Shughra misalnya matinya seorang atau orang banyak karena apapun, hancurnya sebuah atau beberapa benda karena apapun. Kalau ada yang bisa menguasai ilmu ini, pasti dia sakti mandara-guna, karena bisa menebak sebelum terjadi, mengenai segala benda hidup maupun yang mati, akan rusak kapankah ? Bahkan Kiamat Kubra pun dia pasti akan tahu tanggal berapa ? Bulan apa ? Tahun berapa?.
2.     Yang dimaksud ‘(Dia) menurunkan hujan’. Hujan dikendalikan oleh Allah. Kadang membawa rizqi, kadang membawa bencana. Yang mengetahui segala rahasia yang terkandung dalam hujan hanya Allah. Tapi dipelajari juga boleh, agar tahu Kebesaran Allah. Kalau tahu ilmu yang ini, pasti sakti-mandra-guna, sehingga dia bisa menebak akan adanya bencana melanda, yang disebabkan oleh hujan. Yang terjadi pada tanggal sekian, melanda kawasan anu dan sebagainya.
3.     Yang dimaksud ‘Dia tahu yang di dalam rahim-rahim’. Segala rahasia yang berada di dalam rahim, misal Bu Bi akan melahirkan lelaki atau perempuan, yang garis qodarnya umur sekian dia begini, umur sekian dia begini, akhirnya menjadi sarjana apa, atau bagaimana? Dia tahu semua, sehingga jika ilmu ini dikembangkan, bisa menebak semua Makhluq hidup secara rinci, sejak masih berada di dalam rahim ibu atau induknya.
4.     Yang dimaksud ‘Jiwa takkan tahu yang akan dia kerjakan besok pagi’ secara rinci. Kalau dia tahu ilmu yang ini, dia tahu bahwa dia akan kalah atau KO, atau menang, ketika bertanding. Dan ilmu ini bisa dikembangkan hingga dia tahu yang akan terjadi pada lainnya bahkan semuanya.
5.     Yang dimaksud ‘jiwa takkan tahu di tanah mana dia akan mati’ adalah untuk dirinya pribadi, apa lagi mengenai selain dia. Kalau benar dia tahu, pasti ilmu itu bisa dikembangkan hingga dia bisa membuat daftar orang yang akan mati se RT secara urut, bahkan bisa se kabupaten secara rinci dan detail. Lima inilah yang disebut oleh Nabi SAW sebagi 'Kunci-Kunci Barang Ghoib'.
Kalau kemauan dituruti semuanya, niscaya manusia ingin melihat Allah, duduk bersanding Allah. Bahkan ingin kesaktiannya sebanding Allah. Saya yakin dibalik Firman:

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ.

Artinya:
Allah tak berputra dan tak ada satu Tuhan pun menyertai Dia. Jika betul begitu, niscaya setiap Tuhan telah menangani CiptaanNya, dan niscaya sebagian mereka telah berusaha menaklukkan atas sebagian. Maha Suci Allah jauh dari yang mereka jelaskan.”
Terkandung pengertian, "Ada sebagian Sifat Allah yang berada di dalam diri manusia" Yaitu ingin paling berkuasa atau berpengaruh. Ringkasnya bahwa manusia juga ingin sakti hingga akhirnya seperti Tuhan: bisa membunuh atau menghidupkan sesuatu dari jarak jauh, bahkan ingin bisa membuat alam semesta. 
Terkadang mereka berhujah, "Nabi SAW dulu juga sakti, yakni bisa membelah bulan dari jarak jauh. Bisa bertemu dan berbicara dengan Nabi Musa AS yang telah lama wafat." 
Padahal nabi SAW bisa membelah bulan karena Mukjizat. Perhatikan lafal Aayatan’ pada Firman yang menjelaskan saat kaum Kafir menyaksikan kejadian tersebut:

وَإِنْ يَرَوْا آَيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ - (Jika menyaksikan Ayat (Mukjizat), maka mereka berpaling dan berkata ‘sihir’ yang berlalu’.

Biasanya ‘Aayatan’ diartikan Ayat, namun lebih tepat jika di sini diartikan Mukjizat, karena istilah Ayat dalam Al-Qur’an sering bermakna Mukjizat. Nabi SAW bisa berbicara dengan Musa AS di saat Isra’ wa Mi’raj juga karena Mukjizat. Allah berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
Artinya:
Maha Suci yang telah menjalankan Hamba-Nya dari Masjidil-Haram hingga Masjidil-Aqsha. Yang telah Kami barakahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan sebagian Ayat-Ayat (Mukjizat-Mukjizat) Kami. Sungguh Dia Maha Dengar Maha Lihat.” 
Dalam Ayat ini, ketika menjelaskan Mukjizat yang diberikan pada nabi SAW, Allah menggunakan istilah Ayat. Hanya saja bentuknya dirubah menjadi ‘Aayaati’  lalu ditambahi lafal ‘naa’ karena jamak, yakni saat itu, banyak Mukjizat yang diberikan padanya SAW. Dan arti ‘naa’ Kami Allah.
Nabi SAW sendiri tidak mengajarkan kesaktian, bahkan dia SAW menerangkan maksud Firman Allah:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ.

Artinya:
Dan persiapkanlah kekuatan dan ikatan kuda semampu kalian! Untuk menakut-nakuti Musuh Allah dan musuh kalian.” 
Adalah ‘أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ’ (Ketahuilah sungguh kekuatan adalah panah! Ketahuilah sesungguhnya kekuatan adalah panah!').
Bukan kesaktian atau tenaga dalam.
Saya terperangah oleh ucapan beberapa orang, “Kalau otak tengah seorang telah difungsikan, maka orang akan sangat hebat, bisa melihat dengan tanpa mata, menghafal buku yang sangat tebal, sangat cerdas. Einstein sangat cerdas padahal otak tengahnya baru difungsikan sepersekian, kalau bisa maksimal akan lebih hebat lagi. Cara melatihnya sederhana dan cepat. Ini makalah yang disampaikan di dalam seminar.”
Saya menjawab, “Kalau makalah Sakti Mandra Guna di atas dipahami betul, pasti tak mudah percaya ‘makalah tersebut’.”

Memang ada syair mengenai kesaktian, sebagai gurauan:
Empu tempalah kerisku agar halus keluk-keluknya
Tajamkanlah ujungnya!
Kokohkanlah ototnya! Agar sakti-mandra-guna
Tempalah tengah bawah! Kiri kanan lalu depan! Agar semakin tampan
Tusukkan dan tusukkan! Tuk menguji kesaktian
Tuk melumpuhkan lawan
Kerisku sakti-mandra-guna
Apa lagi empunya
Apa lagi yang Maha Kuasa
Disembah alam semesta
Laa Ilaaha illallaah
Muhammadun Rasulullah


Sebetulnya, di saat nabi SAW dan para sahabat, hijrah ke Madinah, kaum Yahudi menyihir agar kaum Muslimaat tidak ada yang bisa melahirkan anak di Madinah. Begitu Asma’ binti Abi Bakr  RA melahirkan Abdullah bin Az-Zubair, sontak para sahabat bertakbir karena surprise. Nabi SAW sendiri juga disihir hingga kesulitan bergerak. Akhirnya Allah yang Maha Asih menurunkan Ayat-Ayat yang sangat indah untuk memberi fatwa mereka:

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (101) وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (102) وَلَوْ أَنَّهُمْ آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (103)

Artinya:
Ketika seorang Utusan dari sisi Allah mencocoki pada yang menyertai mereka, telah datang pada mereka, sebagaian dari kaum yang telah diberi Kitab, membuang Kitab Allah di belakang punggung-punggung mereka. Mereka mirip seperti tidak tahu. [1] (101) Mereka justru mengikuti yang syaitan-syaitan bacakan di atas kerajaan Sulaiman.[2] Padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi syaitan-syaitan yang telah kafir, mengajarkan sihir pada manusia. Mereka juga mengikuti yang diturunkan atas dua malaikat di Babil (Babilon) (bernama) Harut dan Marut. [3] Padahal mereka berdua tidak mengajar seorang-pun sehingga berkata, “Hakikinya kami berdua ‘fitnah’ (cobaan yang merusak iman), maka jangan kafir!.”[4] [5] Namun melalui mereka berdua, mereka mempelajari (sihir) yang bisa mereka gunakan menceraikan antara seorang dengan istrinya. [6] Padahal dengan itu, mereka tidak bisa membuat madharat pada seorang-pun kecuali dengan Idzin Allah.[7] Mereka justru mempelajari yang memadharatkan, tidak bermanfaat pada mereka. [8] Padahal niscaya sungguh mereka telah tahu ‘niscaya orang yang telah membeli dia’, di akhirat tidak memiliki bagian sedikitpun. Dan niscaya jelek yang telah mereka tukarkan dengan diri mereka, kalau mereka tahu. (102) Sungguh kalau mereka telah beriman dan bertaqwa, niscaya Pahala dari sisi Allah lebih baik, kalau mereka tahu. (103)
Ada yang bertanya, “Bolehkan mengatakan ‘Ali bin Abi Thalib RA sakti' karena:
1.     Mampu mengangkat pintu gerbang Khaibar yang sangat berat untuk perisai, hingga peperangan usai. Padahal setelah mengeluarkan seluruh tenaga untuk mengangkat, Abu Rafik dan temannya berdelapan tak berhasil. Bahkan akhirnya, menurut Ibnu Chajar Al-‘Asqalani ‘وَأَنَّهُ جَرَّبَ بَعْد ذَلِكَ فَلَمْ يَحْمِلهُ أَرْبَعُونَ رَجُلًا (Dan sungguh empat-puluh pria setelah itu berusaha mengangkat, namun tak mampu).
2.     Dipangkas mulai dari sisi kening hingga ujung-kepala, hingga bermandi darah. Dengan pedang yang telah diasah selama 40 subuh, lalu diberi 1.000 racun. Namun tidak wafat, bahkan masih bisa berteriak ‘kejar dia! Dan harus tertangkap!’ Bahkan masih bertahan hidup sepuluh hari lagi. Beliau meninggal karena emosinya meledak-ledak tanggal 27 Ramadhan hari Jum'ah?.”
Saya menjawab “Yang paling wira’i katakan ‘bi Idznillah (bi ‘Aunillah),” agar mengikuti Ajaran Allah:

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ.

Artinya:
Ketika itu Allah berfirman, ‘”Ya ‘Isa bin Maryam, ingatlah Nikmat-Ku atasmu dan atas orang tuamu ! Ketika Aku memperkuat kau dengan Ruh Qudus. Kau di dalam buaian berbicara pada manusia, begitu pula ketika memasuki usia kahl. Dan ketika itu Aku telah mengajarkan padamu, 1), menulis, 2), Hikmah, 3), Taurat dan Injil. Dan ketika itu kau membuat seperti burung dengan Idzin-Ku dari tanah, lalu kau tiup di dalamnya hingga menjadi burung dengan Idzin-Ku. Dan kau menyembuhkan sakit-bawaan (sejak lahir), dan belang, dengan Idzin-Ku. Dan ketika itu kau mengeluarkan orang-orang mati (dari kubur) dengan Idzin-Ku. Dan ketika itu Aku menghalang-halangi Bani Isra’il untukmu, ketika kau datang membawa keterangan pada mereka. Lalu orang-orang kafir dari mereka berkata ‘tiada ini, kecuali sihir yang nyata’.”
Az-Zamakhsyari menjelaskan tentang kahl: 

فإن قلت : ما معنى قوله : ( في المهد وكهلاً ) ؟ قلت : معناه تكلمهم في هاتين الحالتين ، من غير أن يتفاوت كلامك في حين الطفولة وحين الكهولة الذي هو وقت كمال العقل وبلوغ الأشد والحدّ الذي يستنبأ فيه الأنبياء

Artinya:
Jika kau berkata “Apa makna Firman-Nya ‘فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا (di dalam buaian dan ketika memasuki usia kahl)?” Saya menjawab “Maknanya ‘kau ‘Isa AS bisa berbicara pada mereka di dalam ini keadaan, tanpa ada waktu luang, di waktu kecil dan waktu berumur kahl atau kuhulah, yaitu waktu sempurna dan maksimal dan ketajaman akal, yang para nabi diangkat menjadi nabi di waktu itu.”

Al-Alusi menjelaskan tentang kahl:

إن الثاني أيضاً معجزة مستقلة لأن المراد تكلم الناس في الطفولية وفي الكهولة حين تنزل من السماء لأنه عليه الصلاة والسلام حين رفع لم يكن كهلاً

Artinya:

Sungguh yang kedua ini sebagai Mukjizat-Mustaqillah (mukjiza berupa ramalan), karena maksudnya “Kau ('Isa AS) berbicara pada manusia di waktu bayi dan di waktu kuhulah, yakni ketika kau turun dari langit nanti” Karena ketika dia AS diangkat ke langit belum memasuki usia kahl.



Ponpes Kutubussittah Mulya Abadi Mulungan Sleman Jogjakarta Indonesia


[1] Wa-nya tidak diartikan karena sebagai athaf atau isti’naf.
[2] Wa-nya diartikan justru karena athaf.
[3] Wa-nya diartikan juga karena athaf.
[4] Wa-nya diartikan padahal karena haliyyah.
[5] innamaa diartikan hakikinya karena dipergunakan menyingkapkan rahasia yang harus diketahui.
[6] Fa diartikan namun karena athaf.
[7] Wa-nya diartikan padahal karena haliyyah.
[8] Wa-nya diartikan justru karena athaf.

0 komentar:

Posting Komentar