SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/05/02

KW 34: Ingin Bergabung Berjuang

(Bagian ke-34 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Setiap habis mengimami sholat subuh, Abu Bakr RA keluar dari Masjid untuk melihat-lihat keadaan alam. Abu Bakr terkejut oleh datangnya Abdur Rohman bin Chumaid. Sejumlah Jamaah menyambut kedatangan Abdur Rohman sambil beranya, “Kau datang dari mana?.”
Abdur Rohman menjawab, “Dari kota Syam. Sungguh Allah telah menolong kaum Muslimiin di sana.”
Sontak Abu Bakr bersujud karena bersyukur. Abdur Rohman mendekat dan berkata, “Ya Khalifah Rasulillah, angkatlah kepala baginda. Sungguh Allah telah membuat baginda berbahagia. Allah telah memberi pertolongan dan kemenangan pada kaum Muslimiin.”
Abu Bakr mengangkat kepala lalu meraih dan membaca surat tanpa bersuara. Setelah memahami isinya, dia membaca lagi surat itu dengan keras agar kaum Muslimiin sama mendengar. Jamaah yang berdatangan semakin banyak ingin mendengarkan. Berita baik itu segera tersebar di kota Madinah dan sekitarnya.

Kaum Muslimiin berjumlah banyak sekali mengalir menuju Madinah, ingin mendengar langsung bembacaan surat Khalid dari Syam. Pembacaan yang ini didengar Jamaah sangat banyak: dari Makkah, Chijaz, dan Yaman. Mereka ingin lebih yakin bahwa Allah benar-benar memberi kemenangan kaum Muslimiin, dan memberi rampasan perang dalam jumlah banyak sekali.
Hari-hari selanjutnya kaum Muslimiin ingin bergabung berjihad menuju Syam. Rasanya ingin sekali mendapat kemenangan dan pahala seperti mereka.
Penduduk Makkah yang berdatangan ke Madinah semakin banyak bagaikan sungai. Bahkan tokoh-tokoh mereka tak ketinggalan. Mereka berkendaraan kuda membawa panah dan peralatan lainnya. Di rombongan paling depan ada tokoh besar bernama Abu Sufyan dan Ghidaq bin Wa’il.
Sesampai di Madinah, mereka menemui Abu Bakr RA, agar diberi idzin bergabung ke kota Syam. Namun Umar RA tidak memberi idzin pada mereka. Dia berkata pada Abu Bakr, “Orang-orang yang belum bisa mengatasi dendam-kesumat, jangan baginda beri idzin!. Segala puji bagi Allah yang Kalimat-Nya sangat tinggi; sedangkan kalimat yang ditetapi oleh kaum Musyrikiin sangat rendah. Mereka ingin memadamkan Nur Allah dengan mulut mereka; namun Allah bertekat menyempurnakan Nur-Nya. Oleh karena itu kita meyakini tiada penakluk selain Allah. Ketika Allah telah menjayakan agama kita dan memperkuat syari’at kita; mereka masuk Islam karena takut pedang. Setelah mereka mendengar berita Pasukan Allah menaklukkan Romawi yang mereka anggap dahsyat, mereka datang pada kita untuk minta diperintah memerangi musuh, agar mendapatkan bagian yang sama dengan orang-orang yang telah mendahului. Yang benar kami tidak boleh menempatkan mereka ini di dekat mereka itu.”
Abu Bakr menjawab, “Saya takkan menyelisihi maupun menentang kemauanmu.”
Dalam waktu cepat ucapan Umar RA sampai ke telinga penduduk Makkah. Mereka merasa tersinggung sehingga harus datang ke Madinah bebodong-bondong banyak sekali. Mereka sengaja akan menemui Abu Bakr RA yang sedang di dalam Masjid, dikerumuni Jamaah Muslimiin. Di dalam Masjid yang dipenuhi Muslimiin itu suaranya sangat riuh. Pembicaraan mereka berkisar mengenai kemenangan yang dianugrahkan atas Muslimiin. Umar mendampingi di sebelah kiri Abu Bakr; Ali di sebelah kanan Abu Bakr RA.

Ada rombongan tamu dari Quraisy berjumlah banyak sekali datang, ingin menghadap Abu Bakr. Setelah salam mereka dijawab, mereka duduk di hadapan Abu Bakr RA. Mereka berembuk sejenak mengenai siapa yang akan mewakili mereka berbicara. Ternyata Abu Sufyan yang mengawali berbicara. Pembicaraan dialamatkan pada Umar, “Hai Umar, di zaman Jahiliyyah dulu kau kami benci. Setelah Allah memberi kami hidayah, kami memberantas kebencian kami padamu, karena Iman memberantas syirik. Namun kenapa kau kini membuat kami marah. Sebetulnya apa yang mendorong kau memusuhi dan menyingkirkan kami ini hai putra Khotthob?! Apa kau belum mencuci dendam dalam hatimu?! Kami semua menyadari bahwa kau lebih utama dan lebih duluan beriman dan berjihad! Kami juga tahu kedudukanmu yang sangat tinggi!.”
Umar RA diam tidak menjawab karena malu.   
Tekat kaum Muslimiin yang melaut itu telah bulat, ingin bergabung berjuang ke negri Syam. Suara Abu Sufyan menarik perhatian Majlis: “Sungguh saya mempersaksikan pada kalian bahwa saya bertekat berjihad di Jalan Allah.”
Tak lama kemudian sejumlah tokoh Makkah juga menyatakan, “Saya juga begitu!” Menggemuruh.
Suara Abu Bakr RA sangat berwibawa namun sejuk: “Ya Allah, sampaikanlah mereka pada lebih utamanya yang mereka inginkan. Dan berilah pahala yang mereka amalkan dengan baik. Berilah mereka ini kemampuan menaklukkan musuh mereka. Jangan kau beri kesempatan pada musuh untuk menaklukkan mereka. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” 
Banyak yang matanya berkaca-kaca karena doa yang diucapkan sejuk bagai air sorgawi bagi mereka.

2 komentar:

  1. Wah berarti cerita KBW udah tamat nih? Session selanjutnya tentang apa lagi Pak.. :D

    BalasHapus
  2. belum cah bagus yang baik hati

    BalasHapus