SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

Doa Meluluhkan Hati Seseorang

Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya HambaMu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya Allah, tundukkanlah

Doa Agar di Beri kerjaan Bisnis

Ya Allah, Raja segala Kerajaan, Tuhan memberikan Kerajaan pada yang Tuhan kehendaki, melepas Kerajaan dari yang Tuhan kehendaki, menjayakan orang yang Tuhan kehendaki, dan merendahkan orang yang Tuhan kehendaki

Sapaan Nabi Membuat Khowat Sungkan

Rasulullah SAW keluar dari tenda dan bersabda pada saya ‘hai Ayah Abdillah, apa yang mendorong kau duduk bersama mereka ?’

Hibah Menurut Bukhori

Hibah Menurut Bukhari Ibrahim Annakhai tergolong Tabiin yang sangar alim. Beliau murid Ibrhaim Attaimi, murid Amer bin Maimun, murid Abu Abdillah Al-Jadali, murid Khuzaimah sahabat Nabi SAW.

Masuk Surga Paling Awal

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril AS telah datang untuk memegang tanganku untuk menunjukkan saya Pintu Gerbang Surga, yang akan dimasuki oleh umatku.”

2011/12/30

KW 170: Dakwah di Negeri Anthakiyah


 (Bagian ke-170 dari seri tulisan Khalid bin Walid)


Ibnu Saed berkata:
“Setelah masuk Islam, Hiraqla meninggalkan negeri Anthaiyah. Secara rahasia, dia kirim surat pada Umar RA. Tidak ada yang mengetahui: ‘saya terserang pusing yang tak pernah sembuh. Berilah obat untuk saya’.
Umar mengirimkan peci yang jika dikenakan, maka pusing Hiraqla sembuh. Namun jika diangkat, pusingnya kambuh. Hiraqla takjub pada peci itu, dan membuka. Ternyata di dalamnya ada tulisan: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. Hiraqla berkata ‘betapa Nama ini sangat agung, menyembuhkan penyakitku’.

Peci itu diwaris turun-temurun, hingga akhirnya jatuh ke tangan penguasa kota Amuriyah (عمورية). Pada waktu raja kaum Muslimiin bernama Al-Muktashim menderita pusing, peci itu diberikan oleh penguasa kota Amuriyah. Setelah memakai, maka penyakit pusing Raja Al-Muktashim hilang. Al-Muktashim perintah agar peci itu dibuka, ternyata di dalamnya ada tulisan: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ."


Di pagi yang menegangkan itu, lautan pasukan Romawi Timur berbaris-baris untuk melindungi Talis yang mereka anggap Raja Hiraqla
Pasukan Raja Filanthanus berjumlah 30.000 orang dan pasukan Raja Yuqana, juga berada di situ. Mereka terkejut oleh Khalid yang berteriak, menggerakkan pasukan elitnya yang bernama Jaisyuzzachf (جيش الزحف), yang artinya pasukan pengobrak-abrik. 
Amukan mereka bagaikan ombak menyapu sampah laut kedaratan. 

Kaum Romawi makin morat-marit, ketika Said menggerakkan pasukannya untuk menyerbu. 
Apa lagi ketika Qais bin Hubairah menggerakkan pasukannya untuk mengamuk. 

Pasukan Romawi Timur porak-poranda. Dan hidup mereka makin terasa sempit ketika Maisarah, Abdur Rohman, Dzu Kala Al-Chimyari (ذو الكلاع الحميري) dan lainnya, menggerakan pasukan untuk menyerang dengan garang. 
Amukan pasukan Muslimiin disambut oleh pasukan Romawi Timur yang jauh lebih banyak dengan garang.

Yuqana dan pasukannya beraksi. Pedang Dhirar bergerak-gerak cepat sekali mencari sasaran dan menewaskan pasukan lawan berjumlah sangat banyak. Tiap membunuh seorang, dia berteriak, “Inilah balasan Dhirar yang tadinya ditawan!.” 
Dhirar dan pasukan pemberian Yuqana, membelah lautan pasukan lawan, untuk mendekati pasukan Arab Nashrani.

Pada pasukanya, Rifaah bin Zuhair berteriak, “Ayo mereka kita serbu! Jangan takut! Ketahuilah bahwa pintu-pintu gerbang surga telah dibuka! Para bidadari telah bersolek! Istana-istana surga telah diperindah! Para remaja surga telah berbahagia karena akan menyambut kedatangan kita! Sang Maha Raja telah muncul! Hai pemuda Arab! Siapa yang ingin menikahi bidadari bermata indah? Berjuang inilah maskawin bidadari! Ayo siapa yang ingin menduduki kursi mewah di surga-surga? Dengan dilayani oleh sejumlah remaja? Siapa yang tertarik dengan Firman Maha Raja ‘Muttakiiina alaa rafrafin khudhrin wa aqbariyyin chisaan (Mereka bersandar bantal hijau dan permadani mewah)?’ [1] Mana yang pernah mendampingi Tuan Besar segala makhluq SAW di dalam Perang Badar dan Chunain?!.”

Dhirar mengamuk dengan pedang di pertengahan lawan. Ketika yang berguguran karena tebasan pedangnya banyak sekali, dia terkejut oleh seorang mengamuk membelah barisan lawan untuk mendekat. Setelah diamati ternyata wanita yang mengamuk dan berteriak, “Ini pembalasan saya atas kalian untuk Dhirar!” Adalah saudara perempuannya bernama Khaulah. 
Dhirar menyapa, “Hai! Saya saudaramu.” 
Khaulah yang mendekat untuk mengucapkan salam ditegur, “Jangan mendekat! Ini bukan waktunya menjawab Salam! Memerangi kaum kafir lebih utama daripada omong-omong denganmu! Ayo kita bersatu untuk berjihad di Jalan Allah! Yang gugur di antara kita akan menunggu di Telaga Al-Kautsar.”

Dhirar dan Khaulah terperangah ketika melihat lautan pasukan Romawi Timur berlarian bagai ombak disapu badai. Karena ada yang berteriak keras, “Raja Hiraqla telah ditangkap oleh Raja Filanthanus pengkhianat!.” 

Amukan pasukan Muslimiin menambah porak-poranda mereka. Yang berguguran pun makin banyak. Pasukan Nashrani Arab yang tewas berserakan berjumlah sekitar 12.000 orang. Pasukan Romawi Timur yang tewas, sejumlah yang tewas di dalam Perang Yarmuk dan Perang Ajnadin. [2]





[1] مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ [الرحمن/76].
[2] Pasukan Romawi Timur dalam perang Annajdin berjumlah 90.000 itu, yang gugur 50.000 orang. Sisa-sisa mereka yang masih hidup berlari kencang menuju dua arah: Damaskus dan Qisariyyah (قيسارية). Kaum Muslimiin mendapat rampasan perang banyak sekali, termasuk di antaranya: Salib-salib dari emas, dari perak, dan benda-benda berharga selain itu. Semua rampasan perang dikumpulkan menjadi satu, termasuk mahkota Wardan. 
Abu Ubaidah ingin menjumlah pasukan Romawi yang tewas dalam Perang Yarmuk, namun tidak mampu, karena terlalu banyak. Dia perintah agar pasukan Muslimiin menebang bambu-bambu di jurang, untuk menghitung jumlah yang sama tewas dari pasukan Romawi. Setelah hutan bambu itu ditebangi untuk memberi tanda, dan menghitung yang sama tewas, akhirnya terjumlah 105.000 mayat. Dari mereka yang mati karam di dalam danau Annaqushah tidak terhitung, karena terlalu banyak. Yang tertawan 40.000 orang. 

2011/12/28

KW 169: Dakwah ke Negri Anthakiyah


 (Bagian ke-169 dari seri tulisan Khalid bin Walid)


Di luar dugaan, ternyata orang-orang yang dinasehati oleh Filanthanus menjawab, “Yang mulia, kami takkan menghalang-halang Tuan meraih kejayaan abadi. Kalau Tuan ingin membimbing kami menuju jalan surga yang kekal dan menghindari kesengsaraan, silahkan kami diajak mengikuti kebenaran dan dan menjauhi kebatilan. Kami akan mengikuti dan mendukung Tuan.” 
Filanthanus berkata, “Kalau begitu nanti malam kita bertugas mengepung istana Raja Hiraqla, sambil berharap bertemu pasukan Arab.” 
Mereka memahami dan mentaati perintah Raja Filanthanus.

Ketika Filanthanus membawa arak-arakan pasukan menuju pasukan Muslimiin, ditemui oleh Yuqana yang membawa surat Raja Hiraqla. Langkah Yuqana berhenti karena ditanya oleh Filanthanus, “Kau termasuk pengawal Raja Hiraqla?.” 
Dia menjawab, “Sayalah Yuqana raja negri Chalab (Aleppo).” 
Filanthanus bertanya, “Kenapa kerajaanmu kau tinggalkan?.” 
Yuqana menjawab, “Saya serahkan agar diatur oleh orang Arab.” 
Dia bertanya, “Kenapa kau percayakan pada orang Arab?.” 
Yuqana menjawab, “Yang mulia. Saya telah mengikui agama mereka, dan mencari-cari kekurangan mereka. Ternyata mereka itu, kaum yang tidak mau memperhatikan kesalahan dan tidak mau berpisah dari kebenaran. Kalau malam mereka bangun untuk shalat dan beribadah. Yang mereka sebut-sebut adalah Tuhan. Jika dari mereka ada yang salah, diingatkan oleh sebagian mereka. Yang kaya menyayang yang miskin. Tokoh dan rakyat berpakaian sama.”
Filanthanus bertanya, “Jika kau telah tahu rahasia mereka, kenapa tidak bermukim di pertengahan mereka?.” 
Yuqana menjawab, “Karena semua rakyat saya masih mencintai saya.” 
Filanthanus berkata, “Orang paling baik, hingga kapanpun pasti mementingkan kebenaran dan mengamalkan dengan ikhlas, untuk meraih derajat surga paling tinggi.”

Yuqana meninggalkan Filanthanus dengan manggut-manggut. Khutbah sekilas Raja Filanthanus disimpan baik-baik di ruang hatinya. Khutbah itu sangat berkesan baginya. Membuat keyakinannya pada agama Islam bertambah mantap. Dan membuat dirinya menyangka Filanthanus telah mengikuti faham Islam. Hati Yuqana bertanya-tanya, “Mungkinkah beliau telah beragama Islam?.”

Dengan hati berdebar-debar, malam itu Yuqana mendekati Filanthanus. Dia berbahagia saat Filanthanus berkata, “Apakah yang dipergunakan oleh Allah untuk menutup orang-orang aniaya dari jalan orang-orang taqwa? Padahal kebenaran telah jelas bagi orang yang mencari, dan kebathilan samar bagi pengikutnya?.” 
Yuqana bertanya, “Yang mulia, pertanyaan baik ini arahnya kemana?.” 
Yuqana terkejut oleh jawaban Filanthanus yang menyangka dirinya telah murtad, “Kalau kau berpikir jernih, pasti tak mungkin murtad dari agama mereka. Kau lebih mementingkan kenikmatan yang takkan abadi, dan berdampak siksa bagi yang tidak mensyukuri.”

Yuqana beku dan membisu. Lalu pergi untuk menyelidiki keyakinan yang dianut oleh Filanthanus. Dia berjalan menuju tempat yang diperkirakan akan dilewati oleh arak-arakan pasukan Filanthanus yang melaut. Filanthanus menaiki kuda dan keluar dari pagar pengaman. Untuk menemui keluarga besarnya yang telah Islam, berjumlah 4.000 orang, berkendaraan kuda. 
Kepada mereka, Filanthanus menggiring menuju pasukan Muslimiin. 

Tiba-tiba Yuqana dan 200 orang keluarganya muncul untuk menghalang-halangi, “Yang mulia! Jangan menyerang kaum Muslimiin!.”
Yuqana terkejut oleh jawaban Filanthanus, “Demi yang Maha Awal dan Maha Kekal, kami mendatangi mereka untuk mempersaksikan keislaman kami, dan untuk bergabung pada mereka! Siapapun yang menyadari bahwa dunia ini fana, pasti akan beramal untuk akhirat. Apa yang menghalang-halangi tuan dari memasuki agama kami (Islam)?.”
Filanthanus memperhatikan Yuqana menjawab, “Yang mulia telah diselamatkan dari jalan sesat menuju kebenaran.” 
Filanthanus makin terperangah, ketika mendengarkan Yuqana berkisah mengenai perjalanan Islamnya. Dia berbahagia ketika tahu bahwa Yuqana merencanakan akan bermakar atas pasukan Romawi Timur. Dengan mata berbinar-binar dia bertanya Yuqana, “Apa mungkin kau berhasil bermakar atas mereka dengan pasukan yang hanya sedikit?.”
Jawaban Yuqana membuat makin terpana: “Yang mulia, di dalam istana saya ada 200 orang sahabat senior Rasulillah SAW, yang nilainya sebanding dengan 200.000 pasukan Romawi Timur. Saya berpandangan sebaiknya yang mulia membawa pasukan ini kembali saja. Akan saya jelaskan pada panglima perang Arab, mengenai keadaan kita yang menguntungkan ini. Sebaiknya yang mulia membawa pasukan ini besok pagi, untuk mengepung Raja Hiraqla. Saya yang akan memasuki kota untuk melepaskan 200 pasukan Arab dari penjara. Mereka akan saya beri pedang untuk berperang. Yang bertugas menangkap Hirqla, yang mulia. Yang akan melumpuhkan kota, saya dan pasukan saya, in syaa Allah. Jika yang mulia ingin ketika telah pulang; rakyat yang mulia tidak tahu bahwa yang mulia telah Islam, perintahlah para famili yang mulia, agar merahasiakan urusan ini.”
Filanthanus berkata, “Tujuan saya berjihad, bukan untuk keduniaan. Bahkan jika kerajaan ini telah direbut kaum Islam, saya justru akan berhaji ke Makkah dan berziarah ke Kubur Rasulillah SAW. Saya akan bertempat tinggal di Baitul-Maqdis, hingga ajalku tiba. Siapa yang sanggup menyampaikan surat saya pada panglima perang kaum Arab?.” 
Yuqana menjawab, “Beliau memiliki mata-mata di sekitar sini, yaitu kaum dzimmi (taklukan Islam). Saya tahu orang-orang itu.”

Malam itu mereka berdua terkejut oleh datangnya lelaki tua. Setelah diamati dengan seksama, Yuqana merasa lega, karena ternyata dia adalah Amer bin Umayah Addhamri (عمرو بن أمية الضمري), yang datang untuk mengucapkan salam. 
Amer berkata, “Yang mulia, Abu Ubaidah mengatakan pada kau ‘jazakallohu khoiron anil Islam’ (semoga Allah membalas kebaikan padamu yang berjasa pada Islam).[1] Beliau telah bermimpi melihat dan melaporkan pada Rasulallah SAW, mengenai raja Romawi kuno dan mengenai yang dibicarakan oleh raja itu dengan Raja Yuqana. Beliau menjelaskan 'nabi SAW telah memberikan khabar gembira' bahwa dosa raja Romawi kuno yang awal dan yang akhir, telah diampuni. Nabi SAW juga menjelaskan bahwa negeri Anthakiyah akan segera ditaklukkan, karena penguasanya akan digantikan.” 

Filanthanus menyimak laporan itu dengan wajah berseri-seri. Dan keyakinannya terhadap kebenaran Islam makin besar. Dia bersukur, “Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kami pada Islam dan Iman.”

Abu Ubaidah RA telah bermimpi melihat dan mendengar Rasulallah SAW bersabda, “Ya Aba Ubaidah, berbahagialah dalam menyambut Ridho dan Rahmat Allah. Besok pagi penduduk negeri Anthakiyah akan menyerah dengan damai. Raja Romawi kuno dan Raja Yuqana telah begini dan begini. Kini mereka berdua berada di dekatmu. Perintahlah mereka berdua agar melaksanakan perintahmu!.” 
Tiba-tiba Abu Ubaidah bangun dan berharap mimpi itu berlanjut.

Dia pun menjelaskan mimpi itu pada Khalid. Lalu berita mimpi itu disampaikan oleh Amer pada dua raja tersebut. Filanthanus menyimak keterangan Amer mengenai mimpi Abu Ubaidah dengan khidmat. Bulu kuduknya berdiri ketika mendengar nama dan sabda Nabi Muhammad SAW disebut. Dengan bahagia dan mata berkaca-kaca dia berkata, “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, dan Muhammad SAW Utusan Allah. Saya bersaksi bahwa agama Islam ini haqqul-yaqiin (sangat benar).”[2]

Filanthanus dan pasukannya kembali ke pasukan induk, untuk mengepung dengan gaya seakan-akan melindungi Raja Hiraqla. 
Di tempat lain, Yuqana dan 200 pasukan, telah meninggalkan Filanthanus dan pasukan khususnya. Yuqana terkejut oleh datangnya pasukan pengawal Raja Hiraqla yang membawa 200 tawanan, untuk dipenggal kepala mereka. Dhirar dan kawan-kawannya. Rencana kepala mereka akan dilemparkan pada pasukan Muslimiin. 

Jantung Yuqana seakan-akan berhenti karena terkejut, bingung, dan takut, jika kepala mereka benar-benar dipenggal. Yuqana berkata, “Hai pengawal senior Raja Hiraqla! Besok pagi peperangan ini akan meledak. Kalau kau memotong dan melemparkan kepala mereka pada pasukan Muslimiin! Dampaknya akan sangat membahayakan. Pasukan Arab akan mengamuk bagaikan malaikat atau bagai syaitan gila! Dan korban kita pasti akan banyak sekali. Takutlah pada Allah! Jangan gegabah dalam bertindak! Biarlah saya yang mengurusi mereka! Memohonlah pada Raja Hiraqla agar pemotongan kepala mereka diundurkan waktunya!.” 

Pengawal senior Hiraqla dan sejumlah pasukan memacu kuda menuju Hiraqla, untuk berkata, “Bagaimana mengenai permohonan Yuqana? Agar pemotongan kepala mereka diundurkan waktunya, dengan alasan ini dan ini?.” 
Hiraqla menjawab, “Biarkan mereka! Agar ditangani oleh Yuqana!.”

Sang pengawal memacu kuda untuk mendekati dan berkata pada Yuqana, “Raja telah menyerahkan urusan para tawanan sepenuhnya pada tuan.” 
Para tawanan dibawa oleh pasukan menuju rumah Yuqana.

Rakyat telah menunggu-nunggu 200 pasukan Muslimiin yang akan dieksusi. Tetapi Yuqana yang ditunggu-tunggu agar mengeksusi terlambat datang, karena justru sedang bermakar ingin menguasai negeri Anthakiyah. Yuqana dan 200 pasukannya melepaskan tali pengikat 200 tawanan. Lalu berjanji akan memberikan sejumlah pasukan pada tiap tawanan tersebut. Sebelumnya Yuqana menjelaskan pada mereka bahwa dia dan raja Romawi kuno, akan bermakar untuk menangkap Hiraqla. 
Dhirar bersumpah, “Demi Allah! Saya besok pagi akan membuat ridha pada Tuhan.” 
Luka-luka dia telah sembuh, karena telah beristirahat selama 8 bulan di dalam tahanan. Tawanan berjumlah 200 orang itu diberi pedang. Dilepaskan dengan didampingi para kerabat Yuqana, untuk diberi pasukan.

Ibnu Masud RA guru Yachya bin Ayub, menjelaskan sedikit perbedaan, mengenai tokoh kerajaan Romawi Timur yang melepaskan 200 pasukan Muslimiin di Anthakiyah:
“Yang perintah agar 200 tawanan itu dipenggal kepala mereka, bukan Hiraqla. Tetapi orang khususnya bernama Talis bin Rinus (تاليس بن رينوس) yang mengenakan mahkota dan sabuk emas bertabur mutiara milik Raja Hiraqla. Dia sangat mirip Hiraqla. Malamnya Hiraqla perintah padanya ‘besok pagi kamu saya tugaskan duduk di atas singgasana saya! Agar saya bisa memakar kaum Arab! Saya akan mengecek apa yang mereka lakukan!’."

Hiraqla telah bermimpi melihat orang turun dari langit, untuk menjungkir balikkan tahtanya. Mahkota Hiraqla terpental jauh dari kepala. Lelaki itu berkata, "Yang jauh telah mendekat! Tahtamu di Suriah telah hilang! Kekuasaan maksiat dan munafik lenyap, digantikan oleh kekuasaan yang benar!." 
Dengan mulut, lelaki itu menyembur arak-arakan pasukan Hirqla dengan kobaran api, hingga mereka sama terbakar. 

Hiraqla bangun dengan ketakutan. Lalu berpikir keras mengenai takbir mimpi itu. Dia menyimpulkan kerajaanya akan segera berakhir. Beruntung bahwa sebelum pasukan Arab datang ke kerajaannya, dia telah mengumpulkan harta kekayaannya ke dalam wadah-wadah, untuk dinaikkan pada sejumlah kendaraan, menuju tempat rahasia. Setelah tahu takbir mimpinya, dia perintah agar keluarganya semua dan harem-haremnya, pergi jauh. Yang diperintah menduduki tahtanya, Talis bin Rinus. 
Di atas tahta Talis perintah pada para pengawal raja, "Keluarkan para tawanan untuk dipenggal kepala mereka!." 
Namun Yuqana menghalang-halangi rencana mereka.”


[1] Al-Waqidi menulis tentang itu: فتوح الشام - (ج 1 / ص 299)
وقال ليوقنا أن الأمير أبا عبيدة يقول لك: جزاك الله خيرا عن الإسلام.
Artinya: Dia berkata pada Yuqana, “Sungguh Amir Abu Ubidah mengatakan pada kau ‘semoga Allah membalas kebaikan padamu yang berjasa pada Islam’.”
[2] Al-Waqidi menulis tentang itu: فتوح الشام - (ج 1 / ص 250)
فلما سمع فلنطانوس ذلك اقشعر جلده وارتعدت فرائصه وقال: أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمداً رسول الله، وأشهد أن هذا الدين هو الحق اليقين

2011/12/25

KW 168: Dakwah ke Negri Anthakiyah


(Bagian ke-168 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Filanthanus mengumpulkan 30.000 pasukan berkuda, dan perintah agar putanya bernama Astaflius (استفليوس) memerintah di kerajaannya. Dia mengeluarkan panji-panji Iskandar Al-Yunani (الإسكندر اليوناني) dari Baitul-Hikmah.[1] Panji-panji keramat yang biasanya hanya dikeluarkan sekali dalam setahun itu bergambar dari emas dan mutiara gemerlapan.

Di tengah lautan pasukan itu, Filanthanus menjadi pusat perhatian. Dinaungi panji paling keramat. Menggiring mereka menuju Anthakiyah (Antioch). Dia dan arak-arakan pasukannya berhenti di pintu gerbang Haus yang artinya Persia. 
Ketika mereka menunggu-nunggu, Hiraqla datang bersama pasukannya. Pagar-pagar penghalang dipasang untuk mengamankan Raja Hiraqla. Rakyat Romawi berbahagia menyaksikan Hiraqla menyambut kedatangan Filanthanus dan lautan pasukannya. Mereka yang berjubel melaut itu yakin kaum Romawi pasti akan segera mengalahkan kaum Arab. Gema suara mereka bagaikan hujan lebat turun dari langit. Lonceng-lonceng yang dipukul sekeras-kerasnya menambah suasana menjadi tegang.

Sejumlah mata-mata Muslimiin datang untuk melaporkan kedatangan bala-bantuan pasukan Romawi kuno, pada Abu Ubaidah. Abu Ubaidah mengangkat dua tangannya untuk berdoa, “Allahumma musuh-musuhMu akan menyerang kami dengan pasukan berjumlah banyak sekali. Rusaklah keyakinan mereka dan hancurkan pasukan mereka. Buatlah mereka porak-poranda. Persulitlah mereka. Buatlah keyakinan kami berjaya, dan keyakinan mereka hina. Tolonglah kami sebagaimana Kau telah menolong NabiMu di dalam Perang Achzab. Halang-halangilah makar mereka dan tolonglah kami mengalahkan mereka.” Pasukan Muslimiin mengamini dengan suara menggemuruh.

Kaum Muslimiin tegang, setelah mendengar berita bahwa arak-arakan pasukan dari Romawi telah datang untuk membantu Hiraqla. Tetapi mereka menenangkan diri dengan bertawakkal pada Allah. Abu Ubaidah perintah pada Muadz bin Jabal agar membawa 3.000 pasukan berkuda ke arah pesisir. 
Muadz menggiring pasukannya menuju pesisir untuk merampas harta yang dibawa oleh pasukan Jabalah. Di pintu gerbang kota bernama Jabalah, Muadz dan pasukannya melihat arak-arakan pasukan membawa bahan makan, dengan 1.000 kendaraan. Bahan makan itu dikirimkan oleh Qusthanthin bin Hiraqla (قسطنطين بن هرقل) dari kota Tharabulus (طَرابُلُسُ), Akka (عَكَّا), Shur (صُورَ), Shaida (صيدا), dan Qaisariyah (قَيْسارِيَةَ/Caesarea), untuk ayahnya. 
Ketika bahan makan itu diserahkan pada pasukan Nashrani Arab, agar selanjutnya diantar pada Raja Hiraqla, Muadz dan pasukannya bergerak cepat untuk memerangi dan merebut. Muadz dan pasukannya membawa rampasan menuju Abu Ubaidah. Kedatangan mereka disambut dengan pekikan tahlil dan takbir oleh Abu Ubaidah dan pasukannya.

Hiraqla marah ketika dikhabari bahwa kirimannya dirampas oleh Muadz dan pasukannya. Dia berkata pada para bathriqnya, “Kita akan segera bertempur menyerang mereka, untuk menentukan mana yang akan menang dan kalah. Ayo siapkan pasukan untuk menyerbu!.” 
Para bathriq segera mempersiapkan para pasukan, untuk menyerbu. 

Hiraqla didampingi raja-raja bawahannya: Filanthanus raja Romawi kuno, raja negri Marasy, raja Iskabadanis (اسكبادنيس), raja negri Tharasus, raja negri Mashishah (مَصِيصَةُ), raja negri Quniyah (قونِيَةَ), raja negri Mashir (مآصِرُ), raja negri Aqshara (أَقْصَرَا), raja negri Qaisariyah (Caesarea/قَيْسارِيَةَ), raja negri Qumath (قوماط), raja negri Thabarzad (طَبَرْزَدَ), dan Raja Jabalah bin Aiham.

Yuqana mengecek barisan pasukan. Semua raja dan semua bathriq telah menyiapkan barisan. Filanthanus mendekati Hiraqla untuk berkata, “Yang mulia, saya meninggalkan kerajaan saya menuju kemari yang jaraknya 200 farsakh, untuk membuat ridha Al-Masih, dan melaksanakan permintaan tuan.[2] Semua pasukan tuan telah berperang. Saya ingin menghadapi Umat Muhammad untuk membuat kita bahagia.”
Hiraqla menjawab, “Silahkan diam di tempat saja, jangan merendahkan diri. Anda raja yang lebih senior daripada saya. Selain anda saja, yang melaksanakan tugas berat ini.” 
Filanthanus berkata, “Kami datang kemari untuk berjihad yang hukumnya wajib bagi kita semuanya. Orang yang memandang dunia dengan rasa cinta, pasti nafsunya akan mendorong dia menuju berlebihan, karena pesona dunia. Itulah yang akan menghalang-halangi dia hingga melupakan tempat kembalinya. Orang yang bergegas mentaati Penciptanya dengan cara menahan hawa nafsunya, berarti telah menaiki derajat menuju daerah surga Firdaus paling khusus yang namanya Dairatul-Quds (دائرة القدس). Ketika yang Maha Awal tahu bahwa kalian tertutup tabir di dalam dunia yang fana, maka kalian dikalahkan oleh umat yang lemah. Hingga kalian diusir dari beberapa wilayah. Ini karena kalian lebih senang mengikuti hawa nafsu yang menyeret kalian pada kerusakan. Karena itu kalian menjadi salah langkah. Kalian meremehkan dan menganiaya rakyat. Kalian juga membiarkan perzinaan berkembang di mana-mana. Itu pula yang membuat kalian dilanda kekalahan dan hina.”
Staf Hiraqla senior bernama Sarund (سروند) membentak pedas pada Filanthinus, “Hai pimpinan pasukan Romawi kuno! Jangan menggurui raja kami yang sudah tidak mau berpikir banyak! Orang yang lebih senior daripada tuan telah nasehat, namun beliau tak menghiraukan.” 
Filanthinus tersinggung hingga wajahnya memerah karena dibentak.

Di malam itu, Filanthinus mendekati pasukan pengawal Raja Hiraqla untuk berkata, “Kenapa kalian membiarkan dia membentak dan mempermalukan saya di hadapan para raja. Kalian tahu sendiri bahwa istana saya lebih besar daripada istana Hiraqla. Secara garis keturunan saya juga lebih mulia dari pada Hiraqla. Seorang alim lurus yang pernah membangun menara tertinggi pernah menyampaikan khutbah:
‘jangan merasa lebih daripada lainnya! Karena akan meremehkan mereka. Jangan menguasai yang bukan hakmu! Karena akan mendorong kau menjadi penjahat’. 
Saya datang kemari bertujuan mengecek agama kaum Arab yang jelas benar. Orang yang memeluk agama mereka, akan aman di hari yang mengerikan. Bagaimana pendapat kalian?.”
Mereka menjawab, “Yang mulia, kenapa tuan akan meninggalkan agama dan kerajaan tuan? Untuk mengikui mereka yang hina dan bodoh?.”
Filanthanus menjawab, “Kebenaran yang hakiki ada pada mereka. Karena ketauhidan mereka yang murni berkat tokoh mereka yang namanya tertulis di dalam ilmu ghoib. Kebenaran Robaniah yang mendatangkan mutiara kebenaran ada pada mereka. Barang siapa ingin berjumpa pada yang Maha Alim hendaklah jangan duduk di Majlis Kebodohan.”

Tokoh-tokoh besar itu mendengarkan dengan seksama, pada ucapan Filanthanus.


[1] Zaman dulu Unifersitas bernama Baitul-Himah.
[2] Satu farsakh: 3 mil (maksimal 12.000 lengan, minimal 10.000 lengan), berdasarkan: القاموس المحيط - (ج 1 / ص 251)
فَرْسَخُ الطَّريق: ثلاثةُ أميالٍ هاشِمِيَّة، أو اثنا عشَرَ ألف ذِرَاعٍ، أو عَشَرَةُ آلافٍ