SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2011/12/24

KW 167: Dakwah di Negeri Anthakiyah



(Bagian ke-167 dari seri tulisan Khalid bin Walid)

Chazim bin Abdi Yaghuts (حازم بن عبد يغوث) anak paman Jabalah, termasuk pemimpin pasukan Nashrani Romawi. Dia, Jabalah, dan putranya, bergabung pada pasukan Raja Hiraqla
Pertempuran Nastarus melawan Addhachak berlangsung seru, ditonton lautan manusia. Pertempuran berlangsung lama itu, membuat mereka berdua lelah, sehingga pertempuran dihentikan. 

Nastarus kembali menuju
panggung kehormatan yang ternyata telah roboh menewaskan orang banyak. Dalam kepanikan, dia mencari Damis tawanannya yang telah kabur dengan kuda, mendekati Chazim yang membawahi pasukan berjumlah banyak. 

Nastarus menghadap Hiraqla untuk melaporkan musibah yang menewaskan dan melukai rakyat berjumlah banyak. Dia berkata, “Demi Al-Masih, kaum Arab ini syaitan-syaitan.”

Pasukan Anthakiyah ribut mencari Damis yang kabur. Sebagian mereka memperhatikan Hiraqla berkata, “Dia pasti masih di sekitar kita! Mungkin menyusup di pasukan kita, yang sama-sama Arabnya.” 

Di beberapa tempat terjadi keributan mengenai tawanan Nastarus bernama Damis, yang kabur. Diperkirakan menyusup di pertengahan pasukan Nashrani Arab.

Damis menghunus pedang dan  mengayunkan sekuat tenaga ke leher
, hingga kepala Chazim putus bersimbah darah. Dan dilemparkan hingga pasukan Nashrani terkejut. Mata mereka terbelalak, tangan seakan-akan beku karena syok, ketika menyaksikan kepala pimpinan mereka terlempar. 

Damis memacu kuda secepat-cepatnya, menuju pasukan Muslimiin yang segera memekikkan tahlil dan takbir. Damis datang pada Abu Ubaidah, untuk menyampaikan laporan mengenai yang telah dia lakukan.

Jabalah marah ketika mendengar khabar bahwa anak pamannya bernama Chazim tewas dibunuh oleh Damis. Jabalah datang pada Hiraqla untuk berkata, “Pembesar negeri Romawi, saya tidak tahan menahan kesabaran atas tindakan kaum Arab. Kami akan segera menyerang mereka.” 
Hiraqla mempersilahkan Jabalah menggerakkan pasukan, untuk menyerang kaum Arab. Namun mereka terkejut oleh pasukan berkuda yang datang untuk menyampaikan laporan. 
Hiraqla bertanya, “Ada apa?.” 
Mereka menjawab, “Yang mulia, Tuan Filanthanus bin Sathaniulus bin Armunia (فلنطانوس بن سطانيولس بن أرمونيا) penguasa negeri Madain (المدائن) dan negeri Romawi, ingin menghadap untuk kepentingan yang mulia.” 
Filanthanus cucu raja yang membangun kuil besar 'Kuil Abu Sarfia'. Di dalamnya ada patung tembaga berlapis emas. Pintu kuil berjumlah tujuh, dari emas. Di tiap pintu kuil, ada patung separuh manusia, memegang beberapa lempengan emas yang diukiri beberapa kalimat. Tiap setahun sekali beberapa lempengan emas yang dibawa oleh patung itu, diambil satu. Untuk digantungkan di dalam kuil, dihadapkan ke matahari. Yang membaca beberapa lempengan tersebut, seorang paranormal. Tiap satu lempeng menjelaskan keadaan suatu wilayah terbesar di dunia. Bangsa Romawi tahu keadaan alam sekitar mereka, karena merujuk tulisan di lempengan-lempengan emas yang dibaca. Kubah kuil besar disangga dengan tiang emas. Dikelilingi tujuh kubah kecil yang juga berfungsi sebagai pintu masuk ke kuil induk tersebut. Kuil-kuil itu dikelilingi dinding tinggi yang di pintu gerbangnya berdiri patung dari batu, “Hajar Aswad,” kata mereka. [1] Keajaiban patung-patung di dalam kuil itu; bisa mengeluarkan suara menakutkan, ketika musim buah zaitun di Barat maupun di Timur. Jika telah begitu, burung-burung berdatangan dengan membawa tiga buah zaitun, dengan paruh dan cengkeraman dua kaki mereka. Untuk diletakkan di atas kepala patung itu. Jika tempat besar itu telah penuh buah zaitun, burung-burung baru berhenti mengantar. Buah-buahan itu diperas diambil sarinya untuk disimpan selama setahun, tidak boleh dimakan. Di dalam kuil (haikal/الهيكل) itu, ada rumah yang pintunya selalu terkunci, sejak negeri Romawi dibangun. 

Ketika akan pergi ke Anthakiyah, untuk menolong Raja Hiraqla
Raja Filanthanus membutuhkan harta berjumlah banyak. Untuk bekal para pasukannya. Dia akan memasuki rumah keramat di dalam kuil yang belum pernah dibuka itu.
Ketika dia akan membuka pintunya, para stafnya melarang. Ada yang berkata, “Raja yang mulia. Sejak pintu rumah ini dikunci yaitu 700 tahun yang lalu; 170 tahun sebelum Al-Masih muncul, hingga detik ini, belum pernah dibuka. Ayah dan kakek-kakek Tuan berpesan agar pintu rumah ini dikunci terus. Yang membangun kuil ini
, kakek Tuan bernama Siwi bin Qithus yang dinastinya bertahan selama 390 tahun. Beliau menyampaikan pesan sebagaimana ayahnya, dan mengangkat putranya sebagai penggantinya. Hingga akhirnya kerajaan berada di tangan Tuan. Kerajaan ini di tangan Tuan telah 100 tahun.”
Filanthanus memaksa agar pintu rumah itu dibuka. Setelah dibuka ternyata kosong, hanya ada relief di dinding, gambar kota Quds dan wilayah Syam, dan lukisan raja-raja Syam semuanya. Yang terakhir lukisan Raja Lithun (ليطن) nama Hiraqla sebenarnya. Hiraqla dilukiskan sedang mengamati tulisan di batu-tulis berbahasa Yunani:
Hai pencari ilmu! Rajinlah membaca! Karena membaca tulisan yang sulit kau pelajari, berulang-ulang, justru akan lebih teringat di dalam hati. Semua ilmu akan matang jika dipelajari dengan teliti, dan dicarikan kias (perbandingan)nya. Ilmu tumpuan berpikir. Berpikir adalah tempatnya ilmu. Kami telah melihat di dalam ilmu rahasia bahwa, "Jika kilat telah membelai bumi dan kesesatan telah pergi, lampu Hidayah (Petunjuk Allah) dari kota Tihamah (Makkah) akan bersinar menyapu kegelapan dan kebodohan.[2] Sinar (nabi SAW) itu akan menerangi, agar manusia mentauhidkan Pencipta mereka. Dialah nabi SAW, pengendara unta kelabu. Yang akan menghapus semua agama dan kerajaan. Para penghuni dataran rendah dan penghuni gunung akan menerima agamanya. Jika sinarnya telah menerangi gunung-gunung, maka ilmu rohani akan dipegang lelaki (Abu Bakar) yang berwajah khusuk. Yang hatinya menyinarkan kebenaran dan agamanya kokoh. Selanjutnya Negri Syam akan dilanda bencana oleh lelaki cerdas yang akan merebut kerajaan Qaishar (Kaisar). Lelaki adil (Umar) itu bejubah kebenaran berpedang cambuk. Jika rumah ini telah dibuka, maka yang akan beruntung, orang yang bisa menerima kebenaran yang menerangi akalnya. Beruntunglah orang yang mengikuti kebenaran dan menjauhi kebatilan.
Filanthanus (فلنطانوس) tertegun pada tulisan yang dia baca. Dia berkata “Bapa, bagaimana pendapatmu tentang tulisan ini?” pada penjaga kuil bernama Atmaus (عطماوس), yang segera menjawab, “Yang mulia. Itu tulisan orang-orang pandai. Mereka bisa menyumbangkan mutiara kebenaran karena akal mereka mendapatkan penerangan. Ini sebagai petunjuk bahwa Raja Romawi terbesar bernama Hiraqla, kekuasaannya akan berakhir. Kerajannya akan berpindah ke negeri Asthur yakni Qusthanthiniyah (Constantinople). Di dalam kitab ilmuan bernama Mahrayis berjudul Mutiara Himah juga diterangkan:
Jika sinar bersih dari orang yatim telah bersinar dari gunung-gunung Tsaran, segala kebusukan akan tersapu oleh sinar hikmahnya. Dan kegelapan yang menggelapi langit akan sirna oleh sinarnya yang terang benderang. [3] Iliya (إيليا) akan terlanda bencana oleh tindakan sahabat nabi yatim itu. Dia lelaki yang berjubah keagungan dan bermahkota akal cerdas. Dia pula yang akan merebut dunia dan mengalahkan raja-rajanya. Dia pula yang beristana keadilan dan berbusana kasih-sayang. Pada masa kekuasaannya, Salib akan hancur, dan air Amudiyah (المعمودية) akan morat-marit. Jalan selamat bagi musuhnya hanyalah tunduk dan patuh pada perintahnya.

Penjelasan penjaga kuil itu disimpan rapat di dalam hatinya. Lalu bibirnya bergumam, “Saya akan mengecek kaum Arab dan menolong Raja Hiraqla, yang telah mengirimi surat pada saya melalui seorang bathriq (patriarch). Agar saya membantu agama Al-Masih. Kalau saya terlambat datang, dia pasti memberi saya sangsi.”

In syaa Allah bersambung.


[1] Al-Waqidi menulis tentang ini: فتوح الشام - (ج 1 / ص 244)
وعلى رأسها صورة من حجر لا يعلم ما هو. بل الحجر أسود.

[2] Tihamah termasuk wilayah Yaman, hanya maksudnya Makkah dan Madinah, berdasarkan:النهاية في غريب الأثر - (ج 5 / ص 722)
إنما قال ذلك لأنَّ الإيمَان بَدَأ من مَكَّة وهي من تِهَامَةَ وتِهَامةُ من أرْضِ اليَمنِ ولهذا يُقال : الكَعْبَة اليَمانيَة وقيل : إنه قال هذا القَوْل وهو بِتَبُوك ومَكَّةُ والمدينَةُ يومئذ بينَه وبين اليمن فأشار إلى ناحيَة اليمن وهو يريد مكة والمدينة .

[3] Dalam Lisanul-Arab dijelaskan, “Faran,” bukan ‘Tsaran’: لسان العرب - (ج 5 / ص 42)
وفي الحديث ذكر فاران هو اسم عبراني لجبال مكة شرفها الله له ذكر في أَعلام النبوة قال وأَلفه الأُولى ليست همزة.

0 komentar:

Posting Komentar