SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2012/08/02

BI 15 : Bedah Ibnu Katsir


وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ].

Artinya:
Dan tanyakan pada mereka tentang (penduduk) desa yang konon berada di sisi lautan! Ketika mereka melakukan Pelanggaran di Hari Sabtu. Ketika itu, ikan-ikan mereka datang pada mereka di Hari Sabtuan mereka, dengan mengapung. Namun di hari mereka tidak bersabtuan; (ikan-ikan tersebut) tidak datang pada mereka.
Seperti itulah, Kami memberi Cobaan mereka, karena mereka telah fasiq. Ketika itu umat dari mereka berkata, “Kenapa kalian menasehati kaum yang akan dirusak atau akan diadzab dengan Adzab Berat oleh Allah?!.”
Mereka menjawab, “Sebagai alasan pada Tuhan kalian, dan agar mereka (yang tidak bersabtuan) bertaqwa.”
Maka ketika mereka telah melupakan yang diperingatkan pada mereka; orang-orang yang menahan kejelekan, Kami selamatkan. Dan Siksaan Berat Kami timpakan orang-orang yang telah lalim, karena telah fasiq. Ketika mereka telah melanggar yang telah dilarang; Kami berfirman pada mereka, “Jadilah kera-kera hina!.”

Ibnu Katsir telah menjelaskan kisah di dalam Al-Qur’an di atas dengan jelas, melalui dua sumber. Lalu menjelaskan lagi melalui Riwayat Muhammad bin Ischaq, bahwa kaum yang diam ketika melihat kemaksiatan, mendapat Siksaan dari Allah. Tetapi akhirnya Ibnu Katsir berpandangan bahwa penjelasan yang lebih berhak dianut, ‘kaum yang diam tetapi ingkar pada pelanggaran tersebut, selamat dari adzab’: تفسير ابن كثير - (ج 3 / ص 496)

القول الثاني: أن الساكتين كانوا من الهالكين.
قال محمد بن إسحاق، عن داود بن الحصين، عن عكرمة، عن ابن عباس؛ أنه قال: ابتدعوا السبت فابتلوا فيه، فحرمت عليهم فيه الحيتان، فكانوا إذا كان يوم السبت، شرعت لهم الحيتان ينظرون إليها في البحر. فإذا انقضى السبت، ذهبت فلم تر حتى السبت المقبل، فإذا جاء السبت جاءت شرعا، فمكثوا ما شاء الله أن يمكثوا كذلك، ثم إن رجلا منهم أخذ حوتًا فخزم أنفه ثم، ضرب له وتدًا في الساحل، وربطه وتركه في الماء. فلما كان الغد، أخذه فشواه فأكله، ففعل ذلك وهم ينظرون ولا ينكرون، ولا ينهاه منهم أحد، إلا عصبة منهم نهوه، حتى ظهر ذلك في الأسواق، ففعل علانية. قال : فقالت طائفة للذين ينهونهم: { لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ } فقالوا: سخط أعمالهم { وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ * فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ } إلى قوله: { قِرَدَةً خَاسِئِينَ } قال ابن عباس: كانوا أثلاثًا: ثلث نهوا، وثلث قالوا: { لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ } وثلث أصحاب الخطيئة، فما نجا إلا الذين نهوا وهلك سائرهم. وهذا إسناد جيد عن ابن عباس، ولكن رجوعه إلى قول عكرمة في نجاة الساكتين، أولى من القول بهذا؛ لأنه تبين حالهم بعد ذلك، والله أعلم. وقوله تعالى: { وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ } فيه دلالة بالمفهوم على أن الذين بقوا نجوا. و { بَئِيسٍ } فيه قراءات كثيرة، ومعناه في قول مجاهد: "الشديد"، وفي رواية: "أليم". وقال قتادة: موجع. والكل متقارب، والله أعلم.


Arti (selain isnad)nya:

Pendapat kedua "Sungguh yang diam ketika melihat kaum berbuat maksiat, tergolong kaum yang dirusak."

Ibnu Abbas berkata, “Mereka telah melakukan bidah berbentuk mencari ikan di hari Sabtu. (Dikatakan bidah karena amalan tersebut pembaharuan syariat). Maka mereka diberi cobaan di hari Sabtu. Mereka diharamkan mencari ikan di hari itu. Mereka menyaksikan ikan–ikan di laut, bermunculan pada hari Sabtu.
Jika hari Sabtu telah berlalu, ikan-ikan tersebut pergi, tak mau kembali hingga Sabtu depan.
Hari Sabtu ikan-ikan datang lagi dengan mengapung. Kejadian seperti itu berlangsung hingga maa syaa Allah (sepanjang waktu yang dikehendaki oleh Allah).
Seorang lelaki mengaitkan tali pada insang ikan. Untuk diikatkan pada pasak di pantai, lalu ditinggalkan di dalam air.
Paginya diambil dan dibakar untuk dimakan. Kaum yang menyaksikannya hanya diam saja. Hanya sekelompok orang yang mengingatkan pelanggaran tersebut.
Akhirnya di pasar-pasar banyak yang menjual ikan tangkapan hari Sabtu. Karena sudah banyak yang berani terang-terangan melakukan pelanggaran. Mereka yang membela kaum yang melakukan pelanggaran, berkata ‘kenapa kalian menasehati kaum yang akan dirusak? Atau akan diadzab dengan Adzab Berat oleh Allah?’.
Mereka menjawab ‘sebagai alasan di sisi Tuhan kalian yang Murka pada pelanggaran tersebut. Dan agar mereka bertaqwa’.
Maka ketika mereka telah melupakan yang diperingatkan pada mereka; kaum yang menahan dari kejelekan, Kami selamatkan; siksa yang jelek menimpa kaum yang telah lalim, karena mereka telah fasiq.
Ketika mereka telah melanggar yang telah dilarang; Kami berfirman ‘jadilah kera-kera hina!’ pada mereka.”

Ibnu Abbas berkata, “Mereka terbagi menjadi tiga:
1.     Ada yang nasehat pada yang melakukan pelanggaran.
2.     Ada yang justru berkata ‘kenapa kalian menasehati kaum yang akan dirusak atau akan diadzab dengan adzab yang berat oleh Allah?’.
3.     Ada yang justru terpengaruh melakukan pelanggaran.
Tidak ada yang selamat dari siksaan tersebut, kecuali yang melarang melakukan pelanggaran. Selain mereka rusak semuanya.”
Isnad dari Ibnu Abbas ini baik, tetapi merujuk ucapan Ikrimah, “Kaum yang diam tetapi ingkar, selamat” Lebih utama daripada uraian barusan. Karena lalu Allah menjelaskan keadaan mereka setelah itu. Allah lah yang lebih tahu. Firman Allah Taala (yang artinya), “Dan Siksaan Berat, Kami timpakan pada kaum yang telah lalim” Mengandung dalil mafhum bahwa, selain yang berbuat pelanggaran, selamat.
1.     Menurut Mujahid maknanya ‘dahsyat’.
2.     Dalam suatu riwayat artinya ‘sangat pedih’.
3.     Qatadah mengartikan ‘menyakitkan’.

Semua makna atau arti tersebut, hampir sama. Allah lebih tahu.

Ponpes Mulya Abadi Mulungan

0 komentar:

Posting Komentar