SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2012/12/22

BC 1: Buah Cinta


Makalah bersambung



Ketika cinta dibentangkan, ternyata segala sesuatu tertampung di dalamnya. Dan ternyata kuda mengangkat kaki agar tidak menginjak anaknya, juga karena cinta. Bahkan di antara peperangan-peperangan yang ada, terdapat peperangan paling indah sepanjang sejarah yaitu Fathu Makkah. Itupun juga karena cinta Rasulullah صّلى اللّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلّمَ  pada sesama manusia. Sehingga yang mestinya Makkah banjir darah karena kesalahan penduduknya yang tak terhingga itu; ternyata justru indah terhias oleh alunan bacaan Al-Qur’an, dan air-mata-bahagia, karena ampunan dan cinta terindah baginda yang dibentang untuk mereka.[1]
Berangkat dari itulah betapa seorang akan hebat jika telah mampu mengembangkan atau memupuk dan meletakkan cinta pada tempatnya
Cinta mengandung, kasih, sabar, adil, dan semuanya yang baik. Betulkah cinta adalah rahmat itu sendiri? Ada orang yang memberanikan diri menjawab, “Kalau urainnya seperti di atas, maka pendapat tersebut betul. Karena rahmat dalam bahasa Arab adalah isim marrah, yakni kata benda abstrak yang menjelaskan perbuatan dilakukan sekali. Jadi rahmat adalah Cinta Kasih Allah pada Hamba-Nya yang dituangkan sekali, namun karena sangat banyak maka menenggelamkan dan memuat segala sesuatu dan abadi. Saat terjadi kiamat, rahmat dicabut digabungkan dengan 99 rahmat lainnya, untuk ahli surga. Sementara kalau uraianya tidak seperti di atas, jelas pendapat ‘cinta adalah rahmat’ tersebut keliru.”
Bagaimana cara mengembangkan, memupuk dan meletakkan cinta pada tempatnya?. Menurut Allah: 
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ .
Artinya:
Dan RahmatKu memuat segala sesuatu. Maka dia akan Aku pastikan secara khusus untuk orang-orang yang bertaqwa dan melunasi zakat, dan pada orang-orang yang beriman pada Ayat-Ayat Kami.” [Qs Al-A’raf 156].
Yakni bahwa bertaqwa, melunasi zakat dan mengimani Ayat-Ayat Allah, akan mendapat rahmat yang luas. Berarti dengan memupuk taqwa secara tidak langsung telah memupuk rahmat atau cinta itu sendiri. 
Bertaqwa ialah menghindari perbuatan dosa agar selamat dari neraka. Adapun tanda ketaqwaan seorang sempurna jika dia ‘meninggalkan yang tidak berdosa’ karena takut kalau berdosa. Rasulullah صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ  bersabda:
لاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ.
Artinya: 
Seorang hamba takkan sampai pada golongan orang-orang taqwa hingga dia meninggalkan yang tidak berdosa ‘karena khawatir berdosa’.” [HR Tirmidzi]. 
Orang yang makalahnya mengenai taqwa diabadikan oleh Allah adalah Nabi Yusuf AS: 
إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ.
Artinya:
Sesunguhnya barang siapa bertaqwa dan bersabar, maka Allah takkan menyia-nyikan pahala orang-orang ichsan.” 
Dan makalah tersebut dilontarkan setelah kakak-kakaknya terperangah pada Yusuf عَلَيْهِ السّلَامُ  yang dulunya adik yang mereka sia-sia. Ternyata akhirnya menjadi orang besar. Tujuan Yusuf عَلَيْهِ السّلَامُ  agar mereka tahu bahwa taqwa tidak hanya membuahkan keuntungan di akhirat saja. Yakni Yusuf عَلَيْهِ السّلَامُ  mendapat derajat setinggi itu pun sebetulnya karena bertaqwa dan bersabar alias berichsan. 
Uraian ini sebagai hujjah bahwa mengembangkan dan memupuk Cinta Allah adalah dengan cara ‘memupuk ketaqwaan’. Dan jika ketaqwaan telah terpupuk maka saat itu pula, Allah merahmati sehingga dia bisa mengendalikan diri. Sabda Nabi Yusuf عَلَيْهِ السّلَامُ yang diabadikan oleh Allah mengenai pengendalian diri:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ.
Artinya:
Dan saya takkan membebaskan diriku. Sungguh diri seorang suka perintah pada kejelekan, kecuali di saat Tuhanku merahmati dia. Sungguh Tuhanku Maha pengampun Maha penyayang.”
Jika ada yang bertanya, “Mana yang diartikan ‘di saat’ pada lafal Ayat tersebut?.”
Jawabannya, “Maa sebelum rahima Rabbii." [2] Lihatlah penjelasannya di dalam Tafsir Al-Alusi berbahasa Arab, agar lebih jelas. 
Dan karena dia AS bisa mengendalikan diri, maka sopan, berwawasan jauh ke depan, dan tidak tamak. Sampai Rasulullah صَلّى عَلَيْهِ اللّهُ وَسَلّمَ  bersabda: 
عَجِبْتُ لصبرِ أَخِي يُوسُفَ وكَرَمِهِ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ حَيْثُ أُرْسِلَ إِلَيْهِ ليُسْتَفْتَى فِي الرُّؤْيَا، وَلَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أَفْعَلْ حَتَّى أَخْرُجَ، وعَجِبْتُ لصَبْرِهِ وكَرَمِهِ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ أُتِي لِيَخْرُجَ فَلَمْ يَخْرُجْ حَتَّى أَخْبَرَهُمْ بِعُذْرِهِ، وَلَوْ كُنْتُ أَنَا لبادرتُ الْبَابَ، وَلَوْلا الْكَلِمَةُ لَمَا لَبِثَ فِي السِّجْنِ حَيْثُ يَبْتَغِي الْفَرَجَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ قَوْلُهُ: "اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ".
Artinya:
Saya telah takjub pada kesabaran dan tatakerama Yusuf AS saudaraku. Semoga Allah mengampuni padanya, di mana seorang diutus agar datang padanya, untuk ‘minta fatwa tentang mimpi raja’. Kalau saya menjadi dia ‘saya tak mau memberi fatwa sangat berharga itu’ sehingga saya (dipastikan) keluar dari penjara tersebut. Saya telah takjub pada kesabaran dan tatakerama Yusuf AS. Semoga Allah mengampuni padanya. Dia telah didatangi oleh seorang utusan, agar keluar dari penjara, namun tak mau keluar, hingga dia menjelaskan pada mereka tentang ‘alasannya’. Kalau saya menjadi dia, tentu saya telah ‘mendahului ke pintu-keluar’. Kalau tiada kalimat tersebut; di mana dia ‘minta tolong dari sisi selain Allah’, niscaya dia tidak bertempat di dalam penjara selama itu. Yakni ucapan Nabi Yusuf  عَلَيْهِ السّلَامُ (pada temannya yang keluar dari penjara), “Tuturkan saya di sisi tuanmu!." [Al-Mu’jamul-Kabir Lit-Thabarani juz 9 halaman 447].


[1] Baihaqi menjelaskan, “Sontak mereka keluar menuju Masjidil-Haram untuk memasuki Islam, dengan perasaan mirip sekali dibangkitkan dari beberapa kubur,” terang As-Suyuthi dalam Ad-Durrul-Mantsur. [Juz 5/448].
Maksudnya sebetulnya mereka telah yakin pasti akan dibunuh, karena kesalahan mereka yang tak terhingga; namun di luar dugaan ternyata nabi mengampuni mereka, sehingga seakan-akan hidup lagi dari kematian.

[2] Dr. Muhammad Taqi’ud-Din Al-Hilali juga mengartikan ‘illaa maa rachima Rabbii’: except when my Lord bestows His Mercy.

0 komentar:

Posting Komentar