SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2014/11/10

Buncit Kuwalat pada Al-Husain




Umar menulis surat untuk Ibnu Ziad, menjelaskan Kedatangan Al-Husain.
Setelah membaca surat, Ibnu Ziad berkata, “Sekarang, jika cakar-cakar kami telah menancap, dia pasti berharap diselamatkan. Namun tak ada lagi tempat berlari.”
Lalu menulis surat perintah agar Umar bin Saed menghalang-halangi, agar Al-Husain tidak berbaiat pada Yazid Amirul-Mukminiin. Dan agar dihalang-halangi dari air (minum).
Umar bin Saed perintah bawahannya bernama Amer bin Al-Hajjaj, agar membawa 500 pasukan berkuda. Arak-arakan pasukan ini berhenti di sungai Syariah, menghalang-halangi agar Al-Husain tidak bisa minum air sungai. Ini terjadi 3 hari sebelum Al-Husain gugur.

Di atas gunung, Abdullah bin Abil-Hushoin Al-Azdi berteriak, “Hai Husain! Bukankah kau menyaksikan air sungai yang melimpah itu?! Namun sampai mati, kau takkan bisa meneguk setetes pun!.”
Al-Husain RA berdoa, “Ya Allah, tewasan dia dengan kehausan! Dan jangan Kau ampuni dia selamanya!.”

Abdullah kesakitan. Jalan yang ditempuh, minum air sebanyak-banyaknya. Air satu gentong habis diminum. Dengan lunglai dia muntah.
Dia minum lagi dalam jumlah banyak, hingga (perut buncit) roboh dan kesakitan, dan muntah-muntah. Dia mengulangi perbuatannya berkali-kali hingga tewas.

Ketika Al-Husain dan para pendukungnya kehausan, maka perintah pada adiknya bernama Al-Abbas bin Ali, agar didampingi oleh pasukan tak berkendaraan, berjumlah 20 pria, ditambah 30 pasukan berkendaraan. Tugas mereka mengambil air sungai untuk minum. Namun mereka diserang agar tidak bisa mengambil air.
Setelah gereba-gereba dipenuhi air, mereka kembali.

Pada Umar bin Saed, Al-Husain perintah, “Temui saya! Di pertengahan pasukanku dan pasukanmu!”
Umar menemui Al-Husain untuk berbicara dalam waktu lama. Lalu mereka berdua kembali menuju pasukan masing-masing. 
Beberapa sumber menjelaskan, “Pada Umar, Al-Husain berkata ‘mari kita berdua menemui Yazid bin Muawiyah (untuk berbaiat)! Pasukan kita tinggalkan!.”
Umar menjawab, “Saya takut berakibat, rumah saya dirobohkan oleh masa.”
Umar berkilah, “Saya takut jika harta saya dijarah oleh masa.”
Al-Husain merayu, “Saya akan memberi kau harta kekayaan yang lebih baik, dari harta saya di Hijaz.”



Bersambung.

[1] الكامل في التاريخ (3/ 163)
فَكَتَبَ عُمَرُ إِلَى ابْنِ زِيَادٍ يُعَرِّفُهُ ذَلِكَ، فَلَمَّا قَرَأَ ابْنُ زِيَادٍ الْكِتَابَ قَالَ:
الْآنَ إِذْ عَلَقَتْ مَخَالِبُنَا بِهِ ... يَرْجُو النَّجَاةَ {وَلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ
} [ص: 3]
ثُمَّ كَتَبَ إِلَى عُمَرَ يَأْمُرُهُ أَنْ يَعْرِضَ عَلَى الْحُسَيْنِ بَيْعَةَ يَزِيدَ فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ رَأَيْنَا رَأْيَنَا، وَأَنْ يَمْنَعَهُ وَمَنْ مَعَهُ الْمَاءَ فَأَرْسَلَ عُمَرُ بْنُ سَعْدٍ عَمْرَو بْنَ الْحَجَّاجِ عَلَى خَمْسِمِائَةِ فَارِسٍ، فَنَزَلُوا عَلَى الشَّرِيعَةِ وَحَالُوا بَيْنَ الْحُسَيْنِ وَبَيْنَ الْمَاءِ، وَذَلِكَ قَبْلَ قَتْلِ الْحُسَيْنِ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، وَنَادَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الْحُصَيْنِ الْأَزْدِيُّ وَعِدَادُهُ فِي بُجَيْلَةَ: يَا حُسَيْنُ أَمَا تَنْظُرُ إِلَى الْمَاءِ؟ لَا تَذُوقُ مِنْهُ قَطْرَةً حَتَّى تَمُوتَ عَطَشًا! فَقَالَ الْحُسَيْنُ: اللَّهُمَّ اقْتُلْهُ عَطَشًا وَلَا تَغْفِرْ لَهُ أَبَدًا قَالَ: فَمَرِضَ فِيمَا بَعْدُ فَكَانَ يَشْرَبُ (الْمَاءَ) الْقُلَّةَ ثُمَّ يَقِيءُ ثُمَّ يَعُودُ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَبْغَرَ ثُمَّ يَقِيءُ ثُمَّ يَشْرَبُ فِيمَا يُرْوَى، فَمَا زَالَ كَذَلِكَ حَتَّى مَاتَ فَلَمَّا اشْتَدَّ الْعَطَشُ عَلَى الْحُسَيْنِ وَأَصْحَابِهِ أَمَرَ أَخَاهُ الْعَبَّاسَ بْنَ عَلِيٍّ فَسَارَ فِي عِشْرِينَ رَاجِلًا يَحْمِلُونَ الْقِرَبَ وَثَلَاثِينَ فَارِسًا فَدَنَوْا مِنَ الْمَاءِ فَقَاتَلُوا عَلَيْهِ وَمَلَئُوا الْقِرَبَ وَعَادُوا، ثُمَّ بَعَثَ الْحُسَيْنُ إِلَى عُمَرَ بْنِ سَعْدٍ أَنِ الْقَنِي اللَّيْلَةَ بَيْنَ عَسْكَرِي وَعَسْكَرِكَ.
فَخَرَجَ إِلَيْهِ عُمَرُ، فَاجْتَمَعَا وَتَحَادَثَا طَوِيلًا ثُمَّ انْصَرَفَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَى عَسْكَرِهِ، وَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنَّ الْحُسَيْنَ قَالَ لِعُمَرَ بْنِ سَعْدٍ: اخْرُجْ مَعِي إِلَى يَزِيدَ بْنِ مُعَاوِيَةَ وَنَدَعُ الْعَسْكَرَيْنِ.
فَقَالَ عُمَرُ: أَخْشَى أَنْ تُهْدَمَ دَارِي.
قَالَ: أَبْنِيهَا لَكَ خَيْرًا مِنْهَا.
قَالَ: تُؤْخَذُ ضِيَاعِي.
قَالَ: أُعْطِيكَ خَيْرًا مِنْهَا مِنْ مَالِي بِالْحِجَازِ. فَكَرَهُ ذَلِكَ عُمَرُ.

1 komentar: