SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2015/04/03

PS 99: Pembebasan Syam





Lelaki itu telah menghadap sang Bathriq dengan menunduk-nunduk, dan memberikan surat. Dan terkejut ketika ditanya, “Apa kamu telah murtad, untuk mengikuti agama kaum Arab itu?!.”
Dia menjawab, “Tidak. Tetapi memang saya telah menjadi tanggungan (Dzimi/Dzimah) mereka. Bahkan anak, keluarga, dan harta saya, mereka lindungi. Tetapi setahu kami, mereka itu orang-orang baik. Menurut saya sebaiknya mereka jangan dilawan, mereka sangat kuat sekali, mereka tidak takut mati. Dalam perang yang sangat mengerikan, mereka justru lebih ingin menyambut kematian daripada agama mereka rusak. Saya yakin sepenuhnya bahwa, akhirnya mereka akan berhasil menguasai kota ini. Dan kalian akan menyerahkan kota ini pada mereka. Bahkan mungkin Allah akan menaklukkan kota ini melalui tangan mereka. Demi agamaku, kalian lebih saya cintai daripada mereka. Saya juga ingin mendukung kalian sepenuhnya. Tetapi terus terang saya sangat takut dengan serangan mereka yang sangat ganas. Sebaiknya tuan ‘menyerah’ pada mereka daripada nantinya menyesal.”
Dengan benci dan murka, penguasa kota Himsh (Homs) mendengar penuturan pembawa surat, mengenai ‘kehebatan kaum Arab’. Ketika kebencian dan kemurkaannya telah memuncak, dia menggertak, “Demi kebenaran Al-Masih dan Injil! Kalau kamu bukan utusan mereka! Pasti saya telah perintah ‘agar lidahmu dipotong!’ Kamu berani-beraninya berbicara begitu di hadapanku!.”
Lelaki itu bergetar ketakutan. Raja Chimsh membaca surat dari Abu Ubaidah dengan seksama. Raja bawahan Hiraqla itu perintah pada juru tulisnya agar menuliskan jawaban.

Jawaban dimulai dengan kalimat kafir. Lalu:
“Hai kaum Arab! Surat kalian telah kami terima dan telah kami pahami maksudnya, berupa ‘ancaman’. Kami tidak seperti kaum Syam yang telah kalian taklukkan. Ketahuilah bahwa Hiraqla Raja atasanku, pasti akan menolong kami. Kami akan melawan kalian! Beteng kami yang kokoh berpintu dari besi, dan serangan kami sangat dahsyat.”
Raja Harbis melipat dan menyerahkan surat itu pada lelaki di hadapannya, agar segera diantarkan pada Abu Ubaidah.
Sejumlah pegawai Raja Harbis menurunkan lelaki pembawa surat, dengan tali, dari atas beteng.

Lelaki itu bergegas menghadap Abu Ubaidah, untuk menyampaikan surat Raja Harbis penguasa Chimsh (Homs).

Surat dibaca di pertengahan kaum Muslimiin.
Pasukan Muslimiin mempersiapkan perang akbar. Abu Ubaidah membagi pasukan menjadi 4 golongan:
1.     Golongan pertama dipimpin oleh Al-Musayab bin Najiyah Al-Fazari (المسيب بن نجية الفزاري), menempati posisi depan Pintu Gerbang Jabal. Bersebelahan dengan Pintu Gerbang Shoghir.
2.     Golongan kedua dipimpin oleh Al-Marqal bin Hisyambin Uqbah bin Abi Waqqash (المرقال بن هشام بن عقبة بن أبي وقاص), menempati posisi depan Pintu Gerbang Rostaq (الرَّسْتقُ).
3.     Golongan ketiga dipimpin oleh Yazid bin Abi Sufyan, menempati posisi di depan Pintu Gerbang Syam.
4.     Abu Ubaidah dan Khalid bin Al-Walid memimpin golongan terakhir, di depan Pintu Gerbang Shoghir.

Semua golongan mendobrak dan mendorong pintu gerbang yang di depan mereka. Mereka tak peduli meskipun batu-batu dan anak panah dari atas beteng, bertubi-tubi menghantam dan menghajar. Pasukan Muslimiin berkali-kali membalas serangan dengan sengit, dengan anak panah mematikan.

Ketika hari mulai gelap, dua kubu menarik pasukan mereka masing-masing.

Di pagi yang cerah itu, Khalid bin Al-Walid mengumpulkan semua hamba-sahaya milik pasukannya, untuk diperintah agar membawa pedang, dan mendorong semua pintu gerbang yang ada. Mereka pun bergerak serempak, mendobrak dan mendorong pintu-pintu gerbang. Batu-batu dan anak panah dari atas beteng, mereka tangkis dengan perisai. Pertempuran yang seru berlangsung cukup lama, menimbukan suara gaduh membisingkan.

Khalid menjawab, “Tenang! Jangan marah dulu. Tenaga kita, kita persiapkan untuk menyerang, jika mereka telah keluar dari pintu gerbang.”
Abu Ubaidah berkata, “Kalau begitu silahkan, semoga Allah memberi kau petunjuk.”

Khalid mendekati 4.000 hamba-sahaya untuk perintah, “Doronglah pintu gerbang itu!.”
Dan perintah pada 1.000 orang Arab, agar membantu mereka.

Serangan pasukan Chimsh dari atas, dan perlawanan kaum hamba-sahaya dari bawah, terus berlangsung dengan sengit. Banyak juga pasukan Chimsh di atas beteng yang tertembus anak panah lalu jatuh ke bawah dan tewas. Hiruk-pikuk, teriakan, dan pukulan pada pintu gerbang, ribut, membisingkan. 

Di depan rumah mewahnya, Harbis muncul, dikelilingi para bathriq (tokoh setingkat jendral). Dia berkata, “Hai semuanya! Demi kebenaran Al-Masih, saya tidak menyangka bahwa ternyata orang-orang Arab, berkulit hitam seperti ini.”
Beberapa orang menjawab, “Itu tidak benar yang mulia! Mereka hamba-sahaya. Dan ini siasat mereka di dalam perang.”
Harbis bersumpah, “Demi kebenaran Al-Masih! Sesungguhnya serangan mereka ini justru lebih dahsyat daripada kaum Arab. Ketahuilah bahwa kaum yang mendekati beteng kita, pasti jatuh mental, walau sebetulnya ini ‘justru sebagai pertanda’ akan menaklukkan kita.”   

Kebanyakan kaum Chimsh ketakutan, karena pintu gerbang kota mereka, sejak pagi hingga petang, suaranya bising, memekakkan telinga. Karena dorongan dan pukulan ribuan kaum hamba-sahaya berkulit hitam, yang digerakkan oleh Khalid.

Serangan sengit kaum Chimsh dari atas beteng dilawan dengan garang dengan anak panah, yang berkali-kali menembus dan menewaskan sebagian mereka.

Saat malam telah datang, semua hamba-sahaya kembali pada tuan mereka masing-masing, untuk istirahat.
Di malam yang dingin itu, Harbis mengirim surat untuk Abu Ubaidah. Pembawa surat hampir ditangkap pasukan Muslimiin, namun dia berkata dengan ketakutan, “Saya utusan tuan Harbis raja Chimsh. Saya diperintah mengantar dan minta jawaban dari surat ini,” sambil menyerahkan surat.

Surat diserahkan dan dibaca oleh Abu Ubaidah:

Hai kaum Arab! Tadinya saya menyangka kalian pandai bersiasat perang, ternyata justru sebaliknya. Kemarin kalian membagi-bagi pasukan untuk menyerang, melalui seluruh pintu gerbang, hingga kami berkata, “Ini pengepungan yang membuat kita kesulitan. Namun paginya kalian justru mundur teratur. Yang kalian suruh maju selanjutnya orang-orang miskin yang pedang mereka mudah patah, dan senjata mereka bermutu rendah. Apa kalian berpikir akan mampu memasuki pintu gerbang kami? Sedangkan kalian sangat bodoh? Sekarang berdamai saja dengan kami! Yakni pergilah untuk menyerang Raja Hiraqla sambil menaklukkan sejumlah negri yang akan kalian lewati; sebagaimana yang telah kalian lakukan. Jangan melampaui batas! Karena melampaui batas akan menjebak pelakunya! Kalau kalian membangkang, kami akan menyerang kalian besok pagi, untuk menentukan mana di antara kita yang benar, yang akan ditolong oleh Tuhan!.”

Seusai membaca surat Harbis, Abu Ubaidah RA mengajak pasukan Muslimiin untuk bermusyawarah mengenai langkah yang harus segera dilakukan. Musyawarah itu dihadiri oleh lelaki tua berasal dari kota Khats’am (خثعم). Orang bernama Atha bin Amer Al-Khats’ami (عطاء بن عمرو الخثعمي) itu, namanya masyhur. Karena merupakan tokoh masyarakat yang telah mengikuti hijrah awal. Dia yang telah berpengalaman memimpin berperang ini, memiki pandangan cemerlang.
Dia berdiri tegak, karena telah menyimak pembacaan surat dari Harbis pada Abu Ubaidah. Dia berkata, “Yang mulia! Saya bersumpah demi Rasulillah SAW. [1] Dengarkanlah ucapanku yang akan bermanfaat untuk kebaikan kaum Muslimiin. Semoga Allah memberi saya petunjuk dalam berbicara ini.”
Abu Ubaidah berkata, “Hai Aba Amer! Berkatalah! Kau orang yang dibutuhkan.”
Atha bin Amer yang panggilan kehormatanya ‘Aba Amer’ maju kedepan, untuk berkata, “Semoga Allah memberi kebaikan pada yang mulia. Sebetulnya mereka tahu bahwa tuan dan pasukan tuan jauh lebih berbahaya daripada ribuan hamba-sahaya itu. Harbis juga sudah tahu bahwa kau telah berhasil menaklukkan penduduk Balbek. Bahkan dia juga tahu bahwa tuan akan mengepung kota ini. Untuk itulah dia telah mengumpulkan bahan makan dan pakan binatang, maupun segala yang diperlukan. Bahkan kampung-kampung di sana, sudah mempersiapkan persediaan bahan makan untuk bertahun-tahun. Maksudnya jika kita mengepung mereka ‘akan memakan waktu’ yang sangat panjang, sebagaimana ketika kita memerangi kaum Damaskus. Menurut saya, sebaiknya tuan bersiasat atas mereka, untuk mempercepat penaklukan kota ini, in syaa Allah.”
Abu Ubidah bertanya, “Bersiasat bagaimana? Hai Aba Amer?.”
Atha berkata, “Sebaiknya tuan minta bantuan ‘perbekalan dan pakan binatang’ pada mereka. Katakan ‘kami akan meninggalkan’ kota ini, untuk memerangi kaum. Kami akan kembali memerangi kota ini, jika telah merampungkan urusan. Jika mereka telah sibuk dengan urusan mereka, dan perbekalan mereka telah berkurang banyak, ‘kita serbu’.”
Abu Ubaidah berkata, “Kau benar! Saya akan melakukan dengan berharap Allah memberi Petunjuk dan Pertolongan.”
Abu Ubaidah minta tinta dan lembaran berwarna putih, untuk ditulisi jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم
Adapun selanjutnya: Saya memandang tawaranmu akan membuahkan ‘perdamaian’ kita semua. Memang sejak dulu kami tidak senang menganiaya Hamba Allah. Kau sendiri tahu bahwa jumlah pasukan kami yang sangat banyak, membutuhkan bantuan ‘bahan makan’ untuk lima hari. Kau juga tahu bahwa jalan yang akan kami lewati sangat jauh sekali. Dan semua kota yang akan kami serang ‘dikelilingi beteng’ tebal dan tinggi, berpintu besi. Kami akan pergi dari sini untuk menyerang wilayah lain. Jika telah selesai, kami akan kembali lagi ke sini. Untuk sementara kita berdamai.”

Surat dilipat lalu diberikan pada utusan Harbis, agar segera diberikan pada tujuan. Utusan segera pergi meninggalkan tempat, menuju istana Raja Harbis, di dalam beteng yang menjulang tinggi tebal sekali.  

Dia diangakat dengan tali, agar bisa naik ke atas beteng menjulang. Lalu turun dan masuk, untuk menemui Raja Harbis, di istananya. Harbis membaca surat dengan berbahagia. Lalu mengumpulkan pejabat-pejabat tinggi dan tokoh-tokoh agama.
Pada mereka, dia berbicara, “Ketahuilah bahwa kaum Arab ‘minta sumbangan bekal dan bahan makan’ pada kalian, untuk selanjutnya meninggalkan tempat. Mereka seperti binatang buas; jika telah mendapatkan makanan, pergi dengan puas. Mereka telah kelaparan di negeri kalian, jika telah kenyang pasti segera pergi meninggalkan kita.”
Mereka menjawab, “Yang mulia! Kami khawatir jika kita telah menyumbang; mereka bersikeras tak mau pergi!.”
Raja Harbis berkata, “Kita akan minta mereka berjanji, jika telah diberi ‘agar segera pergi’.”
Mereka memohon, “Sumpahlah mereka, untuk itu.”   
Harbis perintah pada para rahib dan ulama Nashrani, agar keluar dari beteng, untuk mendatangi dan menyumpah Abu Ubaidah: ‘jika telah diberi bahan makan dan pakan binatang, agar segera pergi’.

Di hari indah itu, pintu gerbang Rostan (الرستن) dibuka lebar. Sejumlah utusan Raja Harbis keluar, untuk menjumpai dan menyumpah Abu Ubaidah: Jika bantuan telah diterima, agar segera pergi meninggalkan tempat. Jika telah menaklukkan kota-kota lainnya, baru boleh kembali lagi ke Chims.
Abu Ubaidah menjawab, “Janji ini akan kami lakukan dengan senang hati.”

Penduduk Chims berbondong-bondong keluar untuk menyerahkan berbekalan, bahan makan, dan pakan binatang, dalam jumlah banyak sekali. Diperkirakan akan mencukupi kebutuhan makan pasukan, hamba-sahaya, dan binatang kendaraan.

Abu Ubaidah berkata, “Hai penduduk Chims! Bantuan kalian telah kami terima! Siapa saja yang ingin ‘menjual’ bahan makan dan pakan binatang, kami masih mau membeli!.”
Mereka berpikir, lalu menjawab, “Ya,” setelah tahu maksudnya. Karena bahasa mereka berbeda.
Pada pasukannya, Abu Ubaidah berteriak, “Belilah perbekalan dari mereka! Karena perjalanan yang akan kita tempuh terlalu jauh!”
Mereka menjawab, “Yang mulia! Dengan apa kita membeli? Dan bagaimana nanti kita membawa?.”
Abu Ubaidah berkata, “Jarahan perang kalian dari Romawi, berikan pada mereka!.”
Chasan bin Adi Al-Ghothofani (حسان بن عدي الغطفاني) berdoa, “Semoga Allah meringankan hisab-an amal Abu Ubaidah RA, sebagaimana dia telah meringankan beban yang telah memberatkan kami, berupa permadani-permadani mewah, Al-Busuth (البسط) dan Thonafis (الطنافس).”

Barang-barang mewah yang harganya saangat mahal itu, ditukarkan dengan perbekalan dan pakan binatang. Kaum Chimsh berbahagia sekali karena selama tiga hari, kaum Arab menjual barang-barang mewah dengan harga sangat murah. Banyak barang berharga 20 dinar, hanya dijual 2 dinar. Setelah kaum Muslimiin meninggalkan tempat, kebahagiaan mereka sempurna.




In syaa Allah bersambung.



[1] Mungkin dia tidak tahu bahwa ‘bersumpah dengan selain Nama Allah’ larangan.  



Ponpes Mulya Abadi Mulungan Mlati Sleman Yogyakarta Indonesia 

0 komentar:

Posting Komentar