SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK PESANTREN MULYA ABADI, JL. MAGELANG KM 8.5 SLEMAN YOGYAKARTA, SEMOGA BLOG INI BISA MENJADI SILATURAHMI KITA UNTUK SALING BERBAGI

2015/08/02

Cerita Islami Syamwil dan Thalut




Berdirinya Kerajaan Israil merupakan Cerita Islami yang dikisahkan oleh Allah, di dalam KitabNya. Dalam kisah tersebut terdapat pelajaran beberapa bab:
1.     Wajib iman pada Nabi Allah.
2.     Pernyataan menarik karena berambisi.
3.     Maha Pandai tentang kaum Aniaya.
4.     Tanya jawab nabi dan kaum.
5.     Pelajaran tentang Allah.
6.     Mukjiat (Tanda kenabian) Syamwil AS.
7.     Sentuh Mesra Allah untuk Nabi Muhammad SAW.
8.     Wajib taat pimpinan.
9.     Rukun, kompak, dan kerjasama.
10. Pernyataan kaum Khusuk.
11. Doa Minta Dituangi Semangat.
12. Emapat besar karena doa.
13. Hukum Allah untuk melindungi dunia.
14. Sentuhan Mesra dan Pernyataan Allah.




Bab 1, 2, dan 3
Wajib Iman pada Nabi SAW
Pernyataan menarik karena berambisi
Maha Pandai tentang Kaum Aniaya

(Kepada Nabi Muhammad SAW,) Allah berfirman, “Apa kau belum memperhatikan pada tokoh-tokoh dari Bani Israil, setelah Musa AS? Ketika itu pada nabi mereka, mereka berkata ‘utuslah! Seorang raja untuk kami! Kami akan berperang di Jalan Allah!’.”

Arah Pertanyaan dan Keterangan Allah, agar Nabi Muhammad SAW bersabar atas kekufuran umatnya. Meskipun mereka wajib beriman pada Nabi Allah SAW. Kisah mereka minta, “Utuslah!’ Seorang raja untuk kami! Kami akan berperang di Jalan Allah!” Pada nabi mereka, adalah berita bahwa awalnya, mereka ragu-ragu dengan kenabian Nabi Syamwil AS.
Nabi AS bersabda, “Bukankan kalian telah menginginkan tidak berperang? Jika perang telah diwajibkan atas kalian?.”
(Karena berambisi duniawai), jawaban mereka (menarik), “Bagaimana mungkin ‘kami tidak akan berperang?’ Padahal sungguh kami telah diusir dari kampung-kampung dan anak-anak kami?.”
Namun ketika perang telah diwajibkan atas mereka, mereka berpaling kecuali sangat sedikit. Allah Maha Pandai mengenai kaum Aniaya. [1]

Dalam Irsyadul-Aqli, Abus Su’ud menjelaskan jawaban mereka :
“Bagaimana mungkin kami tidak berperang di Jalan Allah? Padahal yang mewajibkan agar kami berperang, telah datang? :
1.     Kami diusir dari kampung-kampung dan kota-kota.
2.     Kami diasingkan dari keluarga dan anak-anak.”
Dengan sengaja, mereka menyebutkan “Anak-anak kami” sebagai alasan penyebab mereka akan Perang Sabilillah kuat. Itu karena Jalut pimpinan dan raja kaum Amaliqah, tinggal di pantai Laut Romawi. Di antara Mesir dan Palestin. Telah menaklukan Bani Israil, bahkan telah merampas kampung-kampung dan menahan anak-anak tokoh, berjumlah 400 orang.” [2]


Bab 4 dan 5
Tanya Jawab Kaum dan Nabi
Pelajaran Tentang Allah

Pada mereka, nabi mereka AS bersabda, “Sungguh Allah telah mengutus Thalut (Syawul) sebagai Raja (Pimpinan) untuk kalian.”
Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kerajaan (kepemimpinan) diserahkan dia, atas kami? Padahal kami lebih berhak menjadi raja daripada dia? Lagian dia tidak diberi keluasan harta?.”
Nabi SAW bersabda, “Sungguh Allah telah telah memilih dia atas kalian. Dan telah memberi tambahan ilmu dan fisik, padanya. Allah Maha Luas (PemberianNya) Maha Alim.” [3]


Bab 6
Mukjiat (Tanda kenabian) Syamwil AS

Tafsir Firman Allah yang artinya, “Pada mereka, nabi mereka AS bersabda ‘sungguh tanda kerajaannya, peti yang di dalamnya ada 1), Ketenangan dari Tuhan kalian, 2), sisa dari peninggalan keluarga Musa, dan keluarga Harun AS, akan datang pada kalian. Dibawa oleh para malaikat.”
Mengenai itu, (hai Muhammad atau Syamwil) merupakan Mukjiat untuk kalian, jika kalian (dua kaum) telah beriman: [4]
Diriwayatkan, “Sungguh mereka bertanya ‘apa tanda Thalut sebagai Raja ?’
Dia bersabda ‘tanda rajanya akan datang peti pada kalian’.
Peti yang di dalam Al-Qur’an ditulis ‘Attaabuut’ adalah ‘Asshonduuq’  se-wazan (semodel) dengan (lafal) ‘Fa’luut.’ Asal lafal ‘Attaabuut’ dari ‘Attaub’ yang artinya kembali. Karena tak henti-henti, yang dikeluarkan darinya, maka kembali lagi. Hurufnya ‘ta’ di akhir lafal ‘Attaabuut’ sebagai tambahan, bukan untuk menyatakan perempuan. Seperti lafal ‘malakuut’ dan ‘rahabuut’. Pengertian yang masyhur, huruf ‘ta’ tersebut dibiarkan, tidak boleh dirubah menjadi ‘ha’. Namun sebagian orang, ada yang merubah menjadi ‘ha’. Yang dimaksud peti tersebut wadah kitab Taurat. Sungguh setelah Musa AS wafat, Allah azza wajalla mengangkat peti itu, karena murka atas Bani Israil. Tepatnya ketika mereka telah maksiat dan melakukan pelanggaran.
Ketika mereka minta bukti kuat bahwa Thalut adalah raja (pimpinan), nabi mereka AS menjawab, “Tanda kerajaannya, peti dari langit akan datang pada kalian. Dijaga oleh sejumlah malaikat.”
‘Ternyata peti benar-benar datang seperti penjelasannya. Disaksikan oleh kaum, hingga turun di sisi Thalut’. Terang Ibnu Abbas RA. [5]

Tafsir kalimat, “Inna fii dzaalika (إِنَّ فِى ذَلِكَ).”

Dalam Irsyadul-Aqli, Abus Su’ud menulis, “Inna fii dzaalika (Sungguh mengenai itu), adalah isarah yang tertuju pada penjelasan tentang peti. Ini merupakan kesempurnaan penjelasan Nabi (Syamwil) AS pada kaumnya, atau kesempurnaan nukilan dan penjelasan kisah tersebut. Ini merupakan Permulaan Penjelasan dari Allah Taala. Kalimat ini dihadirkan untuk menyempurnakan kisah. Sebagai pertanda nyata Pertolongan (Allah) pada nabi SAW. Penentuan pelaku tunggal pada huruf Khithob (‘ka’) yang diajak berbicara), padahal yang diajak berbicara dua arah, karena dua perkiraan :
1.     Untuk menjelaskan golongan.
2.     Atau untuk menjelaskan selain itu. Sebagaimana penjelasan yang telah lalu.” [6]
Ada yang menjalaskan, “Huruf ‘ka’ dalam lafal ‘dzaalika’ semacam isarah Sentuhan Mesra Allah pada Nabi Muhammad SAW.”
Kalau huruf ‘ka’ dalam lafal ‘dzaalika’ bukan untuk menyentuh perhatian Nabi Muhammad SAW, tentu lafalnya “Dzaalikum.”

Semoga Cerita Islami Syamwil dan Thalut selanjutnya, lebih bermanfaat. Alloohumma aamiiiin. Bianna laKal-Hamd.


[1] {أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ} [البقرة: 246].
[2] تفسير أبي السعود = إرشاد العقل السليم إلى مزايا الكتاب الكريم (1/ 239)
وَمَا لَنَا أَلاَّ نقاتل أي أيُّ سبب لنا في أَن لا نقاتل فِى سَبِيلِ الله وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن ديارنا وَأَبْنَائِنَا أي والحال أنه قد عَرَض لنا ما يوجب القتالَ إيجاباً قوياً من الإخراج عن الديار والأوطان والاغترابِ من الأهل والأولاد وإفرادُ الأبناء بالذكر لمزيد تقوية أسبابِ القتال وذلك أن جالوت رأسَ العمالقةِ وملكهم وهو جبارٌ من أولاد عمليق بن عاد كان هُو ومَنْ مَعَهُ من العمالقة يسكنون ساحلَ بحرِ الرومِ بين مصر وفلسطين وظهروا على بني إسرائيلَ وأخذوا ديارَهم وسبَوْا أولادهم وأسرُوا من أبناء ملوكهم أربعمائة.

[3] {وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ} [البقرة: 247].
[4] {وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [البقرة: 248].
[5] تفسير أبي السعود = إرشاد العقل السليم إلى مزايا الكتاب الكريم (1/ 241)
 رُوي أنهم قالوا ما آية ملكة فقال إن آية ملكِه أن يأتيكم التابوت أي الصُندوقُ وهو فَعْلوتٌ من التَّوْب الذي هو الرجوعُ لما أنه لا يزال يرجِعُ إليه ما يخرُج منه وتاؤه مزيدةٌ لغير التأنيث كمَلَكوت ورَهَبوت والمشهورُ أن يوقف على تائه من غير أن تُقلبَ هاءً ومنهم من يقلِبُها إياها والمراد به صُندوقُ التوراةِ وكان قد رفعه الله عزَّ وجلَّ بعدَ وفاةِ موسى عليه السلام سُخطاً على بني إسرائيلَ لما عَصَوا واعتدَوْا فلما طلب القوم من نبيهم آيةً تدل على مُلك طالوتَ قال لهم إن آية ملكِه أن يأتيَكم التابوتُ من السماءِ والملائكةُ يحفَظونه فأتاهم كما وصف والقومُ ينظرون إليه حتى نزل عند طالوتَ وهَذا قولُ ابنِ عباسٍ رضي الله عنهما.

[6] تفسير أبي السعود = إرشاد العقل السليم إلى مزايا الكتاب الكريم (1/ 242)
{إِنَّ فِى ذَلِكَ} إشارةٌ إلى ما ذكر من شأن التابوت فهو من تمام كلامِ النبي عليه السلام لقومه أو إلى نَقلِ القصة وحكايتها فهو ابتداءُ كلامٍ من جهة الله تعالى جيءَ به قبل تمامِ القصةِ إظهاراً لكمال العنايةِ به وإفرادُ حرفِ الخطاب مع تعدُّد المخاطَبين على التقديرين بتأويل الفريق أو غيرِه كما سلف.

0 komentar:

Posting Komentar